♥ Lentera Qalbu ♥

Cermin Hati menuju Inspirasi

Terlihat raut-raut wajah yang dihiasi de


Mahar Cinta


Andainya dapat engkau mendengarkan
Suara di hatiku melagukan rindu
Kiranya engkau mampu mentafsirkan
Setiap bait kata-kata yang terucap

Pasti dirimu kan memahami
Harapan kasih yang terbina
Sekian lama di sudut hatiku
Hanyalah untukmu

Bukanlah aku sengaja
Melindungi rasa di jiwa
Namun bimbang diri kan terleka
Hanyut dibuai angan dan mimpi indah
Hingga terabai segala cita
Sedang khayalan tak menjanjikan
Segunung kebahagiaan
Sebagai mahar hantaran

Apakah mungkin engkau mengerti
Setiap cinta yang dilafazkan
Bukanlah sekadar mainan
Tetapi sebuah janji

Andainya dapat engkau mendengarkan
Suara dihatiku melagukan rindu
Kiranya engkau bias mentafsirkan
Setiap bait kata-kata yang terungkap

Pasti dirimu dapat melihat
Rahsia kasih yang terpendam
Sekian lama di sudut hatiku
Hanyalah untukmu
Selamanya....


Allah Maha Pengasih Maha Penyayang, menjadikan segala kehendaknya sebagai takdir terbaik bagi hamba-hambaNya…

Idul Adha hari besar umat Islam…di dalamnya tersirat makna dari sebuah sejarah hidup keluarga Ibrahim yang hanif, seorang kekasih Allah. Semoga Allah merahmati keluarga beliau. Semoga kita dapat mencontoh perjuangan, sepakterjang dan ketaatan keluarga Ibrahim kepada Allah.

Saya gereskan sedikit catatan, semoga kita sebagai seorang muslimah bisa mengambil ibroh atau hikmah dari setiap peristiwa yang dialami oleh ibunda Hajar. Kisah ibunda hajar memberikan sebuah pecerahan bagi kaum hawa, inilah jalan Allah menjadikan kisah terdahulu sebagai cerminan, tauladan serta acuan bagi kita sebagi wanita yang berusahan menegakan titah-titah Rabb kita.

Seorang ibunda Ismail yang hanif meletakan Ketaatan kepada Allah, Rabb tercinta di atas segala cinta…cintanya kepada suami tak sebanding dengan cintanya kepada Allah. Terbukti saat Hajar baru melahirkan anak yang didambakan sekian lama, Ismail kecil harus jauh dari sang ayah Ibrahim. Hati kecil tak kuasa Ibrahim berjauhan dengan anak yang disayangi dan istri yang dicintai di tengah daerah yang gersang. Tatap sedih seorang hajar ketika akan ditinggalkan suami, Hajar bertanya pada suami yang ia cinta…”wahai suami ku sayang, kenapa kau meninggalkan aku dan anak kita di tempat yang gersang ini?”…sedikitpun Ibrahim tak bisa berkata, lalu Hajar bertanya lagi… “wahai suami ku sayang, kenapa kau meninggalkan aku dan anak kita di tempat yang amat gersang ini?”…sekali lagi Ibrahim tak kuasa menyampaikan perintah Allah agar menempatkan Istri dan anaknya di tempat yang kini menjadi tempat yang amat dirindukan umat islam dari seluruh penjuru dunia, dengan penuh kelembutan, keridhoan dan keikhlasan yang mengalir deras, Hajar bertanya pada Ibrahim…”Wahai suami ku sayang, apakah ini perintah dari Rabb kita?, Jika Ya maka tinggalkanlah aku, sungguh aku Ridho jika ini perintah Allah. Allah tak akan menelantarkan hambaNya”…Subhanallah inilah bukti cinta tertinggi seorang istri menjadikan Allah segalanya. Ibrahim dengan penuh keyakinan meninggalkan seorang istri dan anak yang di cintai, menitipkan pada Rabbnya agar tempat gersang itu menjadi tempat yang gemar di kunjungi orang dan di berkahi oleh buah-buahan yang melimpah ruah.

Tatap Hajar pada bayang pundak Ibrahim dari arah belakang, perlahan bayangnya mengecil dan menghilang…Betapa cemas, betapa bimbang seorang Ibu Ismail saat anak kecilnya menangis. Betapa hausnya si kecil, betapa hausnya…Seorang ibu berlari dari satu bukit kebukit lain, bimbang, resah, cemas…”Ya Allah dimanakah air, Ya Allah dimanakah air yang bisa ku teguk bersama anak ku”. Berlari dari bukit Safa dan Marwah, terus berlari, berbolak-balik terus berlari…Allah berkehendak air memancar dari kaki ismail kecil, bukan dari jejak-jejak yang Hajar lewati.

Bukti perjuangan Ibunda hajar tak hanya sampai di situ, Saat datang perintah Allah untuk menyembelih Ismail kecil, dalam mimpi Ibrahim “Anaku, aku bermimpi Allah memerintahkan aku untuk menyembelih mu, bagaimana pendapat mu?”…Ismail kecil tak berkata selain kalimat “Jika ini perintah Allah, maka laksanakanlah”…Datanglah setan menggoda keluarga Ibrahim. Namun tak sedkitpun terusik untuk menunda bahkan tak melaksanakan perintah Allah…jadilah sebuah ritual spiritual yang kita laksanakan bersama oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia. Keberkahan menyertai keluarga Ibrahim…

Hajar mengikhlaskan anaknya…namun kehendak Allah lain…telah terbukti ketaatan keluarga Ibrahim…Allah memerintahkan Ismail untuk digantikan dengan seekor kambing…

Maha Kuasa Allah di atas segala-galanaya…jadilah keluarga seperti keluarga Ibrahim…jadilah wanita yang mentauladai Ibunda Hajar…Sungguh sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita saleha…

Perlahan bersama hembusan nafas, ku padukan antar logika dan perasaan, berbaurlah menyelusup menuju syaraf-syarat sensorik dan motorik, jemari ini menari-nari mengikuti apa kata hati. Saudari ku…saat kau baca catatan kecil ku, perlahan hembuskanlah nafas dan bacalah dengan hati, serta bayangkanlah hal termanis yang pernah kita rasakan bersama…


Bismillah…

Saudari ku…hari ini telah mengantar kita pada kedewasaan yang teramat mempesona. Teruslah tengadah dan tergarlah seperti mawar yang terus tengadah kearah datangnya cahaya, penuh semangat dan amat mempesona. Saudari ku...ketika angin zaman menerpa di atas cadas ataupun lumpur cemas, teruslah mewangi ibarat bunga. Tetaplah indah di padang liar.

Saudari ku…masa berganti rupa dan jatah usia kita semakin berkurang saja. Di depan sana, gerbang dunia luar yang terbuka lebar-lebar telah siap menyambut kita dengan segenap kegenitan serta gemerlap yang menggoda. Sungguh, di tengah masyarakat yang begitu awam harus tertegakanlah syariat Islam,namun terkadang membuat kita bimbang dalam memperjuangkannya.

Saudari ku…Kita menyadari bahwa taring-taring tajam kehidupan yang menganga itu selalu siap menerka kita, memaksa kita untuk saling mengingatkan dan menguatkan sehingga kokoh laju langkah kita. Ingatlah kita harus tetap melangkah ke depan.

Saudari ku….Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di depan nanti. Bahkan ketika kedipan mata serta hembusan nafas yang keluar dari tubuh fana hilang dihisap oleh alam sekitar. Kita tak pernah tahu apakah masih ada kesempatan untuk sekali lagi mengedipkan mata. Bahkan kita tak bisa menjamin pada diri sendiri untuk sekedar bisa menarik nafas yang sama pada detik berikutnya, kecuali hanya dengan izin Allah Subhaanahu wa ta'ala.

Saudari ku…Sesungguhnya, takdir jualah yang telah menuntun kita hingga di titik ini. Maka begitulah yang telah terjadi di saat itu. Masa-masa di mana benih persaudaraan yang kita tanam, haruslah menghasilkan buah-buah manis, yang terbalut dalam indahnya ukhuwah. Allah Subhaanahu wa ta'ala pula yang telah menciptakan dan menumbuh kembangkan. Menjaga serta merajut kebersamaan tidaklah mudah, maka ketika rajutannya telah mampu menyelimuti dan menghangatkan persaudaraan kita, lelaplah dan terhangatkanlah dalam hangatnya dekapan ukhuwah…hingga lelah yang kita rasakan sirna seketika dan kitapun saling merangkul , melangkah serta melaju menuju ketetap terindah Rabb kita…

Saudari ku…, bersama kehadiran mu, bisikan selalu pada ku akan hakikat hidup yang sesungguhny…agar kelak di JannahNya kita bersama menatap pelangi indah di atas menara indah nan bercahaya…kita mendekap erat dan tersimpul senyum termanis kita. Kelak di jannahNya manusia amat suci telah menanti kita sebagai umatnya, disana kita teguk kesegaran dari jumlah air sebanyak gelas-gelas melebihi hitungan bintang gemintang. Kesegarannya melebihi air susus yang bersih dan putih, serta melebihi manisnya melebihi madu…betapa indahnyakan? Mari kita terus melaju menuju ketempat terindah itu, walau terkadang tertatih-tatih kaki kecil kita melangkah…tapi yakinlah Allah akan selalu menyertai kita…Besabarlah dengan penuh keikhlasan….

Inspirasi: dari sebuah Catatan “Sebab mekar mu hanya sekali”


Disapa, namun tak terjangkau oleh sensoriknya…

Bias membias berkata awal terbata-bata , namun kita menjadi sebuah cerita yang melegenda….

Canda meski tak tertatap mata, kita berpadu membelenggu diri-diri kita pada setiap kata sapa serta do’a…

Sebait do’a, seucap kata, serta getaran hatinya tentu Rabb kita mendengarnya

Tersenyumlah bahgia saat kita bisa saling sapa, membisikan makna dari hati ke hati dengan teramat hati-hati karena kita tak mau ada goresan yang membelah dan memancarkan nanah,

Ada langkah pasti yang kita tuju, ada pengorbanan pasti yang kita relakan…dan kelak akan ada buah mais yang kita cicipi bersama, ada pula siraman kesegaran yang selalu menyemangati, disinilah perjuangan kita berawal dari menumbuhkan cinta kasih pada-Nya.

Lisan bertegur sapa, hati mengiyakannya…

Mata tak menatapnya, namun hati tetap mengatakann ya…

Sungguh deretan do’a menjadi pelipur lara saat mata tak menjangkaunya

Sungguh bait-bait do’a menjadikan penguat deretan penyemangat agar tetap melekat dalam hangatnya sebuah ukhuwah…

Ukhti…manis di lisan menjadikan sapaan, tentu tak semanis dalam qalbu kita,

Biarkan Rabb kita yang menjadikan kita saling merangkul dalam hangatnya dekapan ukhuwah…

Tak bisa aku berkata “Aku mencintai mu karena Allah” cukup dirasa apakaha hati mengiyakannya atau tidak…

Langit telah di tinggikan bersamanya awan tercipta sebagai Maha Karya Sang Pencipta,tertatap indah oleh mata. Seketika menatap ke atas arah awan,perlahan awan itu menurunkan hujan,terbasahilah paras. Terpejamlah mata saat tengadah dan merasakan kesegaranya...alangkah membeku saat brdiri trlalu lama di bawah siraman hujan,namun tak surut juga terus berdiri,dingin,dan membeku membuat sendi2 terasa kaku...tak lama kemudian datang seseorang wanita berkerudung jingga membwa payung dan memeluk,lalu menatap tak ada isyarat kata. Lalu terhangatkanlah seluruh persendian ini, mencairlah seluruh kebekuan ini hanya degan dekapan hangat seorang sahabat...ukhuwah ini manis.

Riak sesampai di muaranya. Dulu terlihat tenang dan menentramkan. Sayang amat disayang hanya karena lisan, riaknya telah tampak. Ragu?entahlah apa yg dirasa, cukup Allah yang mengetahuinya. Ragu?entahlah mungkin hanya setan yang menggoda. Ragu?entahlah mungkin keegoisan masih menunggangi. Ragu? tidak akan ragu jika ketetapan terbaik dari Allah yang menyertai ku. Tak ku tatap arif dan bijaksana, takpula kaya dan pintar, entahlah, Allah Maha Segala,biarkan ketetapan Allah menjadi muaranya. Allah pelipur lara...

Sepertiga isi telah kita warnai. taukah dari mana warnanya?jangan pernah pejamkan mata saat menatapnya.lihatlah sepertiga isinya berwarna jingga,aku,kamu dan dia menjadi sepertiga dari isinya.warna kita berbeda,tapi ada 1 warna sama ya 1 dan kita seper3nya.1 adalah jingga,yang menggoreskan dalam satu nuansa,aku,dia dan kamu saling mencinta dalam satu rasa.katakan pada isi hati,berlarilah dan percikan kepada seluruh umat manusia,hingga kita tak menjadi sepertiga lagi...dirasa,digengam,namun zahirnya tetaplah ada. ukhuwah menghangatkan,islam jalan terindah,iman amatlah manis,lembut dan menyejukan...

oleh: Tuti Rina Lestari

oleh:Tuti Rina Lestari

Semilir angin berhembus kearah ku, terasa menyejukan. Ku pejamkan mata, perlahan kesejukannya terasa menyelusup kedalam dada...menghela perlahan nafas, perlahan pula ku buka mata. tiba-tiba bias bayangan tampak di depan sana, ku pandang, perhatikan dan ku coba terus melihatnya, sepertinya memukau jika ku hampiri saja bayangan itu. perlahan aku melangkah, langkah pertama ku baca Basmallah, langkah ke dua ku yakinkan diri, langkah ke tiga semaikin penasaran rasa hati, "apakah sosok bayangan itu?"semakin dekat semakin tampak bayangan itu, sungguh tak sabar aku menatapnya dan mengetahuinya...

jarak bayangan semakin terlihat mendekat, terus aku melangkah...tiba-tiba seketika ada suara kicau burung yang indah di luar sana, kicauannya menyelusup kedalam telinga dan memaksa mata untuk segera menatap sang burung yang bersuara indah...seketika ku palingkan pandangan ke arah datangnya suara...kaki memaksa untuk berberok arah, tapi hati masih terikat pada bayangan yang ada...dengan berat hati ku coba kuatkan untuk terus melangkah menuju bayangan itu...seketika ku fokuskan pandangan ke arah bayang itu...Sungguh tak disangka bayangan itu telah hilang begitu saja...Sedih? Bimbang? atau Putus Asakah?....Entahlah apa yang dirasa...Ikhlaskan saja...Ikhlaskan saja...Ketegasan bayangan itu belum ku tatap, bisa saja menyeramkan atau malah sangat indah!...tapi tak apalah.

Duduk dan tertunduk seraya berkata pada hati..."kenapa bayangan itu pergi, padahal belum terlihat jelas serta terjawab pasti rasa penasaran ini?" Hmm menghela nafas perlahan sambil tertunduk melihat kotak-kotak keramik yang berwarna jingga...seketika terdengar lagi suara kicau burung yang merdu dari luar sana...perlahan ku telusuri sumber suaranya...Sungguh tak disangka dia mungil dan berwarna mempesona... ku hampiri seketika berlari kearahnya...dengan cantiknya ia berkicau diatas ranting pohon..,lama sekali burung itu berkicau. ku nikmati suaranya, lalu ku pejamkan mata sambil bersandar di beranda...indah...sungguh indah. Menghela nafas...tetaplah menghiasi dengan kicauan pelipur hati...Kau menawan dan indah, dicipta Hasil Karya Sang Pencipta...tersenyum seraya bersyukur...Teima kasih Ya Rabb....

Biarlah bayangan berlalu, bersama kehadiaran suara indah itu...
Allah Maha Pengasih Maha Penyayang....

"Duduklah dan dengarkanlah...akan aku bisikan sebuah keletihan yang aku rasa." seketika kau duduk dan menatap ku lalu bertanya..."apa yang membuat mu lelah?..."tertunduk aku perlahan amat berat lisan berkata, namun dalam hati kata-kata telah mengantri mendesak lisan ini berucap..."aku lelah dengan dunia, aku lelah pula dengan sandiwara manusaia"...lalu kau tersenyum dan tak berkata apa-apa...seketika kau genggam jemari ini lalu mengajak aku berdiri...dan kaupun berkata..."aku ajak ketempat yang bisa membuat mu merasa bahagia saat di dunia, pejamkan mata, aku akan menuntun mu ketempat indah itu"...

ku pejamkan mata, gelap eantah berada dimana, kaki terus melangkah namun tak tau ada di mana, yang terasa hanya gengaman jemari yang kokoh dan amat kuat serta terasa hangat..."aku kan di bawa kemana?"...."tenanglah sebentar lagi kita sampai"...terdengar suara berbisik di telinga...yah itulah suara seorang insan yang telah menjadi pendamping hidup ku....dengan penuh keyakinan aku akan diperlihatkan sebuah keindahan dunia...tak sabar mata ini menatapnya...

Bersambung....

Kita adalah insan yang hidupkan buat sementara
kita adalah insan yang hakikatnya adalah hamba...
tapi mengapa sring kita tangguhnkan perintah waktu untuk menyembahnaya
tapi mengapa kita selalu leka dengan kewajiban sebagai hamba

Kita adalah insan yang dihidupkan buat sementara
kita adalah insan yang hakikatnya adalah hamba
Tapi mengapa kita selallu leka dengan kewajiban sebagai hamba

Tsedang tuhan tak pernah lupa untuk mencurahkan segala nikmatnya
bahkan Tuhan maha poenmgampun diatas segala dosa yang dialkukan bagai mereka yang insaf dan mau bertaubat...

Sehela nafas perlahan terhembuskan...terkadang merasa berat. terpejamkan mata, karena takut terbelalak akan Indah dunia yang sementara. hijab-hijab yang kini telah meninggi menjadikan aku terkurung oleh fatamorgana dunia. maka kembalillah wahai jiwa-jiwa hampa menuju hakikat jiwa yang tenang yang senantiasa mengharap Ridho dan di Ridhoi-Nya...maka kelak masuklah kedalam Jannah-Nya...
Pejamkan mata, dan rasakan hangatnya...itulah kehadiran iman di hati kita...

tersimpulkan sedikit kata-kata namun tidaklah terlalu bermakna. Kini kita sudah mengerti isyaratnya...Bukan karena cinta yang menjadikan aku berani, bukan karena paras yang menjadikan aku bertahan, bukan pula karena kedudukan yang menjadikan aku perjuangkan...tapi Iman yang amat manis telah ku teguk dari hakikat hikmah hidup yang telah aku jalani...tak perlu membahas masalah perasaan, tak perlu pula menceritakan pentingnya logika...yang terpenting adalah kita Menghamba...

simpan sejenak masalah logika dan perasaan lalu kita padukan akan hakikat ajaran...bukan aku dan kamu tetapi kita yang menyelusuri labirin-labirin menuju hakikat muara cinta...

Berpadu kita menghamba kepada Allah Yang Esa...Cinta berpadu dalam Taqwa...Allah...Allah...Allah






Cahaya pagi berbeda dengan cahaya senja. Cahaya pagi memancarkan semangat sedangkan cahaya senja memberikan ketentraman, keindahan serta harapan. 2 cahaya di waktu yang berbeda serta tempat yang berbeda.

Biarkan cahaya dari keduanya terus terang dan benderang. Pancaran cahaya pagi menguatkan namun senja menentramkan…

seraya berada dipenghunjung senja ku tatap keindahannya, memukau, amat menawan serta menentramkan, namun amatlah singkat. Tak sedikitpun aku beranjak dari tempat semula untuk tetap menikmati keindahannya. Tertatap perlahan mentari pun terbenam, dengan penuh harap esok bisa menatapnya kembali. Bersama kepergian senja,tertunduk seraya berkata pada hati…”Hakikat rotasi dari sebuah bumi, berputar yang menjadikan siang terang benderang dan malam gelap, Allah telah memasukan malam kedalam siang dan memasukan siang kedalam malam…Hakikat dari kuasa Allah yang Maha Berkehendak”…perlahan tak terasa meneteslah air mata. “Senja amat memukau namun hanyalah sekejap saja kehadirannya” menghela nafas perlahan, namun terasa amat berat…

Setiba kumandang azdan magrib, senja pun berlalu…ku ambil air wudhu, meleburlah air mata bersama basuhan pertama pada paras yang berdosa…

Perlahan ku resapi, menikmati setiap rakaatnya seraya menghela nafas yang terasa berat…menghamba, merasa diri amat hina, tak menerima akan hakikat garis-garis Sang Pencipta Alam Semesta…”Biarkanlah senja berlalu, karena esok akan ada pagi yang memberi semangat, pancaran cahayanya yang kuat”….

Sudahilah wahai jiwa hampa kembalilah pada Rabb yang telah menetapkan segalanya, saat tergores dalam lauh mahfuz dan tinta telah mengering maka takdir seorang Hamba telah ditetapkan.

Mentari meronta, bunga pun tengadah kearah datangnya cahaya, sinarnya kuat memancar, mengeringkan embun-embun yang membasahi permukaan dedaunan. Menghangatkan namun terkadang pula menyilaukan, agar aku bertahan ku coba pejamkan mata dan merasakan hangatnya…menghembus nafas lalu seketika menghirup udara pagi sungguh amat menyegarkan, Semangat pagi…! Semangat pagi….! Ternyata cahaya pagi memang penuh semangat…tak seperti senja yang membuat sendu…selamat tinggal senja berkas cahaya yang tak hadir sekejap saja…

Bismillah aku melangkah…hari ini cukup panjang untuk ku lalui bersama sang mentari pagi…berkas cahaya penuh semangat…”Ya..Semangat pagi, semangat Pagi…!!!! Pagi…pagi…”.

Melangkah pasti….Meraih mimpi…Bersama hadir mentari pagi…^_^

Melangkah lalu berlari menyelusuri tempat-tempat indah, yang menumbuhkan serta membesarkan sang generasi yang arif dan bijaksana, tersenyum, terpukau akan karya yang dicipta. Tak bisa tertunda karena bersama datangnya cahaya disitulah saatnya berkarya untuk agama dan bangsa. Melangkah, melaju, mencipta karya, membangun generasi arif dan bijaksana, mengantarkan si kerdil ahlaknya agar menjadi besar jiwanya, dan dengan kebesarannya ia mencinta bangsa dan agama.

Selamat tinggal senja,…yang telah mengajarkan aku agar arif dan bijaksana…

Selamat Pagi, memberi semangat baru…menatap hidup lebih berwarna…

1 keping mozaik telah aku temukan, tersenyumlah dan bersyukurlah, hidup ini indah jika semua karena Allah…

Thank you Allah…^_^…

oleh: Tuti Rina Lestari

"Malam berlalu, tapi tak mampu ku pejamkan mata dirundung rindu kepada mereka yang wajahnya mengingatkan aku pada surga. Wahai Fajar terbitlah segera agar sempat ku katakan pada mereka aku mencintai kalian karena Allah"....Umar Ibn Al-Khathtab


ukhti, pernah ada masa-masa kita berpadu tangis jadi tawa, dan tawa jadi duka karena lisan ini yang terkadang tak terjaga. ukhti sayang... masih ingatkah saat-saat kita bersama bercerita tentang masa depan yang gemilang, menyusun harapan-harapan, dan kita saling mendo'akan? Ukhti sayang ingatkah ketika perkataan yang menyakitkan dari ku? dengan begitu kau bimbing aku dan menasehati ku, hingga aku merasakan keindahan sebuah teguran, inilah bentuk kasih sayang. ukhti sayang...ingatkah semua itu saat kita hamparkan bersama alas-alas ketaatan kita saat akan berjumpa dengan Rabb kita? Ukhti sayang kita berdiri membangun syaf yang sejajar, inilah awal kita bangun menara bercahaya di kelak di surga....

Saat ini hati terasa dekat, sungguh melekat ukhti...mengalir do'a untuk setiap pertemuan kita semoga Allah memberkahi, melimpahkan kasih sayangnya dalam hangatnya Dekapan Ukhuwah...Ukhti...Aku mencintai kalian karena Allah....

Ukhti sayang, Senyum, Tawa, Canda, dan nasehat kita bersama telah berpadu dalam bingkai indahnya Ukhuwah....

"Dalam dekapan ukhuwah kita mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi, sungguh kelak di surga ada menara-menara bercahaya bagi hati yang saling mencinta...mari kita bersama membangunya dalam Dekapan Ukhuwah-Salim A.Fillah"

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita

kita lekat bagai api dan kayu

bersama menyala, saling menghangatkan rasanya

hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa

tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu


Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini

kita terlalu akrab bagai awan dan hujan

merasa menghias langit, menyuburkan bumi,

dan melukis pelangi

namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

 

Disatu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari

mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman

bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin

saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

 

Kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long

menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;

“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan

willow tumbuh subur meski diabaikan”

 

maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali

“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”

 

padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan

seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan

maka seolah aku telah membiarkan

orang bisu yang merasakan kepahitan

menderita sendiri, getir dalam sunyi

-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-

 

dan sekarang aku merasa bersalah lagi

seolah hadirku kini cuma untuk menegur

hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan

bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan

-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita

hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-

 

kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;

satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya

terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya

“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal

maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”

 

“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr

dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam

“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.

kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,

tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”

 

tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah

“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda

“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah

“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’

lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.

masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”

 

‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat

tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas

katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..

demi Allah akulah memang yang keterlaluan..”

lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang

 

ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu

mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami

pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini..

 Salim A. Fillah

"♥ Assalamu'alaikum...selamat datang di blog sederhana ini. semoga setiap rangkaian kata-kata bisa menginspirasi & memberi motivasi hingga menjadikan lentera penerang dalam hati...♥"

♥..Inilah Aku..♥

Foto Saya
Tuti R.Lestari
"Seorang hamba Allah yang senantiasa berusaha menjalankan titah-titah Rabbnya... Semoga setiap goresan pena dapat memberikan inspirasi dan Motivasi..."
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

:::: Translet ::::

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Entri Populer

Follow

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...