♥ Lentera Qalbu ♥

Cermin Hati menuju Inspirasi

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita

kita lekat bagai api dan kayu

bersama menyala, saling menghangatkan rasanya

hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa

tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu


Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini

kita terlalu akrab bagai awan dan hujan

merasa menghias langit, menyuburkan bumi,

dan melukis pelangi

namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

 

Disatu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari

mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman

bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin

saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

 

Kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long

menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;

“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan

willow tumbuh subur meski diabaikan”

 

maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali

“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”

 

padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan

seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan

maka seolah aku telah membiarkan

orang bisu yang merasakan kepahitan

menderita sendiri, getir dalam sunyi

-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-

 

dan sekarang aku merasa bersalah lagi

seolah hadirku kini cuma untuk menegur

hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan

bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan

-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita

hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-

 

kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;

satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya

terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya

“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal

maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”

 

“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr

dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam

“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.

kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,

tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”

 

tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah

“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda

“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah

“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’

lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.

masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”

 

‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat

tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas

katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..

demi Allah akulah memang yang keterlaluan..”

lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang

 

ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu

mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami

pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini..

 Salim A. Fillah

"♥ Assalamu'alaikum...selamat datang di blog sederhana ini. semoga setiap rangkaian kata-kata bisa menginspirasi & memberi motivasi hingga menjadikan lentera penerang dalam hati...♥"

♥..Inilah Aku..♥

Foto Saya
Tuti R.Lestari
"Seorang hamba Allah yang senantiasa berusaha menjalankan titah-titah Rabbnya... Semoga setiap goresan pena dapat memberikan inspirasi dan Motivasi..."
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

:::: Translet ::::

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Entri Populer

Follow

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...