♥ Lentera Qalbu ♥

Cermin Hati menuju Inspirasi


Cahaya pagi berbeda dengan cahaya senja. Cahaya pagi memancarkan semangat sedangkan cahaya senja memberikan ketentraman, keindahan serta harapan. 2 cahaya di waktu yang berbeda serta tempat yang berbeda.

Biarkan cahaya dari keduanya terus terang dan benderang. Pancaran cahaya pagi menguatkan namun senja menentramkan…

seraya berada dipenghunjung senja ku tatap keindahannya, memukau, amat menawan serta menentramkan, namun amatlah singkat. Tak sedikitpun aku beranjak dari tempat semula untuk tetap menikmati keindahannya. Tertatap perlahan mentari pun terbenam, dengan penuh harap esok bisa menatapnya kembali. Bersama kepergian senja,tertunduk seraya berkata pada hati…”Hakikat rotasi dari sebuah bumi, berputar yang menjadikan siang terang benderang dan malam gelap, Allah telah memasukan malam kedalam siang dan memasukan siang kedalam malam…Hakikat dari kuasa Allah yang Maha Berkehendak”…perlahan tak terasa meneteslah air mata. “Senja amat memukau namun hanyalah sekejap saja kehadirannya” menghela nafas perlahan, namun terasa amat berat…

Setiba kumandang azdan magrib, senja pun berlalu…ku ambil air wudhu, meleburlah air mata bersama basuhan pertama pada paras yang berdosa…

Perlahan ku resapi, menikmati setiap rakaatnya seraya menghela nafas yang terasa berat…menghamba, merasa diri amat hina, tak menerima akan hakikat garis-garis Sang Pencipta Alam Semesta…”Biarkanlah senja berlalu, karena esok akan ada pagi yang memberi semangat, pancaran cahayanya yang kuat”….

Sudahilah wahai jiwa hampa kembalilah pada Rabb yang telah menetapkan segalanya, saat tergores dalam lauh mahfuz dan tinta telah mengering maka takdir seorang Hamba telah ditetapkan.

Mentari meronta, bunga pun tengadah kearah datangnya cahaya, sinarnya kuat memancar, mengeringkan embun-embun yang membasahi permukaan dedaunan. Menghangatkan namun terkadang pula menyilaukan, agar aku bertahan ku coba pejamkan mata dan merasakan hangatnya…menghembus nafas lalu seketika menghirup udara pagi sungguh amat menyegarkan, Semangat pagi…! Semangat pagi….! Ternyata cahaya pagi memang penuh semangat…tak seperti senja yang membuat sendu…selamat tinggal senja berkas cahaya yang tak hadir sekejap saja…

Bismillah aku melangkah…hari ini cukup panjang untuk ku lalui bersama sang mentari pagi…berkas cahaya penuh semangat…”Ya..Semangat pagi, semangat Pagi…!!!! Pagi…pagi…”.

Melangkah pasti….Meraih mimpi…Bersama hadir mentari pagi…^_^

Melangkah lalu berlari menyelusuri tempat-tempat indah, yang menumbuhkan serta membesarkan sang generasi yang arif dan bijaksana, tersenyum, terpukau akan karya yang dicipta. Tak bisa tertunda karena bersama datangnya cahaya disitulah saatnya berkarya untuk agama dan bangsa. Melangkah, melaju, mencipta karya, membangun generasi arif dan bijaksana, mengantarkan si kerdil ahlaknya agar menjadi besar jiwanya, dan dengan kebesarannya ia mencinta bangsa dan agama.

Selamat tinggal senja,…yang telah mengajarkan aku agar arif dan bijaksana…

Selamat Pagi, memberi semangat baru…menatap hidup lebih berwarna…

1 keping mozaik telah aku temukan, tersenyumlah dan bersyukurlah, hidup ini indah jika semua karena Allah…

Thank you Allah…^_^…

oleh: Tuti Rina Lestari

"Malam berlalu, tapi tak mampu ku pejamkan mata dirundung rindu kepada mereka yang wajahnya mengingatkan aku pada surga. Wahai Fajar terbitlah segera agar sempat ku katakan pada mereka aku mencintai kalian karena Allah"....Umar Ibn Al-Khathtab


ukhti, pernah ada masa-masa kita berpadu tangis jadi tawa, dan tawa jadi duka karena lisan ini yang terkadang tak terjaga. ukhti sayang... masih ingatkah saat-saat kita bersama bercerita tentang masa depan yang gemilang, menyusun harapan-harapan, dan kita saling mendo'akan? Ukhti sayang ingatkah ketika perkataan yang menyakitkan dari ku? dengan begitu kau bimbing aku dan menasehati ku, hingga aku merasakan keindahan sebuah teguran, inilah bentuk kasih sayang. ukhti sayang...ingatkah semua itu saat kita hamparkan bersama alas-alas ketaatan kita saat akan berjumpa dengan Rabb kita? Ukhti sayang kita berdiri membangun syaf yang sejajar, inilah awal kita bangun menara bercahaya di kelak di surga....

Saat ini hati terasa dekat, sungguh melekat ukhti...mengalir do'a untuk setiap pertemuan kita semoga Allah memberkahi, melimpahkan kasih sayangnya dalam hangatnya Dekapan Ukhuwah...Ukhti...Aku mencintai kalian karena Allah....

Ukhti sayang, Senyum, Tawa, Canda, dan nasehat kita bersama telah berpadu dalam bingkai indahnya Ukhuwah....

"Dalam dekapan ukhuwah kita mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi, sungguh kelak di surga ada menara-menara bercahaya bagi hati yang saling mencinta...mari kita bersama membangunya dalam Dekapan Ukhuwah-Salim A.Fillah"

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita

kita lekat bagai api dan kayu

bersama menyala, saling menghangatkan rasanya

hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa

tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu


Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini

kita terlalu akrab bagai awan dan hujan

merasa menghias langit, menyuburkan bumi,

dan melukis pelangi

namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

 

Disatu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari

mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman

bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin

saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

 

Kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long

menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;

“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan

willow tumbuh subur meski diabaikan”

 

maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali

“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”

 

padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan

seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan

maka seolah aku telah membiarkan

orang bisu yang merasakan kepahitan

menderita sendiri, getir dalam sunyi

-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-

 

dan sekarang aku merasa bersalah lagi

seolah hadirku kini cuma untuk menegur

hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan

bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan

-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita

hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-

 

kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;

satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya

terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya

“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal

maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”

 

“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr

dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam

“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.

kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,

tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”

 

tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah

“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda

“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah

“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’

lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.

masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”

 

‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat

tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas

katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..

demi Allah akulah memang yang keterlaluan..”

lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang

 

ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu

mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami

pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini..

 Salim A. Fillah


Telaga itu luas, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”

Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.

Tapi di antara alisnya yang tebal dan nyaris bertaut itu ada rona merah dan urat yang membiru tiap kali beberapa manusia dihalau dari telaganya. Dia akan diam sejenak. Wibawanya terasa semerbak. Lalu dia bicara penuh akhlaq, matanya berkaca-kaca. “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”

 Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”

Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Di telaga itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.

Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu Al Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.

 

Salim A.Fillah

"♥ Assalamu'alaikum...selamat datang di blog sederhana ini. semoga setiap rangkaian kata-kata bisa menginspirasi & memberi motivasi hingga menjadikan lentera penerang dalam hati...♥"

♥..Inilah Aku..♥

Foto Saya
Tuti R.Lestari
"Seorang hamba Allah yang senantiasa berusaha menjalankan titah-titah Rabbnya... Semoga setiap goresan pena dapat memberikan inspirasi dan Motivasi..."
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

:::: Translet ::::

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Entri Populer

Follow

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...