♥ Lentera Qalbu ♥

Cermin Hati menuju Inspirasi

oleh: Tuti Rina Lestari



Anak kecil membisikan sesuatu pada ibunya. ” Bunda apa yang membuat mu sayang pada ku?”.
Seketika bundanya mengecup kening anaknya. Anaknya pun bertanya “ bunda kenapa mengecup kening dinda?”.ibunya tak menjawab malah Kedua kalinya kening anaknya di kecup lagi. “ bunda ko mengecup kening dinda lagi?”. Lalu ibunya bertanya.” Apa kau bosan bunda kecup terus kening mu”. Anak itu terdiam sejenak lalu berkata dengan polosnya “ bunda akupun ingin mengecup keningmu juga, tapi aku malu”. Perlahan-lahan, Lalu dikecuplah kening ibunya. “bunda I kali lagi biar terbayar kecupan bunda”. sambil tersenyum bundanya berkata” tentu saja dinda”…lalu bunda bercerita tentang sesuatu pada anaknya…”dinda tau tidak setiap malam saat dinda tidur bunda selalu mengecup kening dinda dari mulai dinda bayi loh..” anaknya tediam sambil menatap kedua mata ibunya…” jika begitu setiap malam, dinda yang akan menghampiri bunda untuk mengcup kening bunda hingga dinda pun tua.” Seketika berlinanglah air mata seorang bunda…didekaplah anak yang ia cintai serta mengalirlaah sepenggal do’a “ Ya Allah persatukan kami dengan rasa cinta, kasih dan sayang yang melahirkan buah-buah keimanan dan ketakwaan”.
Dari seorang anak untuk ibunda…
Saat kerinduan menyapanya…

oleh: Tuti Rina Lestari



Bunda, mawarnya telah merekah indah...
Bunda aku ingin bercerita tentang sekuntum mawar yang kini telah dewasa. Dulu kuncup bunga itu tidak lah indah, namun kini takdir Allah telah mendewasakannya dengan tetesan ilmu dan do’a, dan kini telah merekah indah . bersiaplah bunda jika kelak akan ada lebah yang menghampirinya. kelak mereka akan menghasilkan madu. Madu itu amatlah manis dan naungilah kedunya serta periharalah dengan bait-bait do’a agar hidup bersama untuk bermanfaat pada manusia...
Bunda, katakanlah…! Bukankah itu takdir Allah senantiasa memasang-masangkan sesuatu yang ada di dunia? Yakinlah bunda, akupun akan bahagia jika aku merasakan yang sama seperti bunga. bunda aku bahgia saat kau pun bahagia. Kebahagiaan kiata adalah yang paling utama, itulah yang selalu aku rindukan.
Bunda terkadang resah melanda, obatilah aku dengan do’a yang mengantarkan ku pada kepastian setengah agama ku…namun bunda, aku malu jika berkata seperti itu. Cukuplah Rabb kita yang merencanakannya, namun ku butuh pula do’a mu sebagi pelengkap ke Ridhoan-Nya.
Bunda tak lupa pula bisikan do’a pada Rabb kita pertemukan aku dengan manusia yang taat pada-Nya. Persatukan kami dengan ilmu, dan ketaatan pada Rabb kita.
Bunda, ku harap do’a…
Bunda, kuharap ia…
Bunda, Kuharap pertemuan dengan ia…
Bunda, aku jatuh cinta pada ketinggian ilmu dan takwa…
Bunda, aku ingin bahagai dunia dan akhirat selamnya…
Bunda aku harapkan do’a yang mempertemuakan dengan ia yang memiliki ketinggian ilmu dan takwa agar kita bahagia dunia dan akhirat untuk selamanya…
Bunda terima kasih untuk setiap bait cinta do’a yang mengantarkan aku pada cinta-cinta-Nya.
Duhai bunda tataplah keindahan saat sekuntum mawar itu saat merekah…jagalah, dan rawatlah dengan kejernihan do’a yang terus mengalir mengharap Ridho Rabbnya…

oleh: Tuti Rina Lestari




Duhai manusia berlaga ibarat raja…berkuasa demi kepuasan semata.
Lihatlah ulah mu telah merenggut kedewasaan bangsa…
Jika kau tak percaya! Tengoklah di ujung timur bangsa ini…tragis ada tetesan air mata anak bangsa karena cinta dan citanya telah hancur bersama puing-puing gempuran akhlak manusia.
Rekayasa, menjadi jalan utama kau memperdaya anak bangsa! Naïf jika kau berkata “aku cinta bangsa”.
Sudahilah…anak bangsa tak butuh skenario yang kau buat. Tak pantas tayangan yang kau buat di pertontonkan. Bosan sungguh! Cerita yang amat klasik, cerita para kaum elite yang mendongkrak harta karun peninggalan masa penjajahan belanda.
Berapa banyak anak bangsa yang tumpul ahlaknya? Berapa banyak pula anak bangsa yang tak tersentuh hatinya oleh cita dan cinta pada penciptanya? Huh…menakutkan jika harus dibiarkan. Kau tau? Sejauhmana dirimu malu? Tengoklah pada hatimu…ia membisikan hal yang besar kan! Wuh…memalukan jika hati itu tak pernah berhati-hati.
Kau harus berhati-hati pada setiap perkara yang ada di hati, takutlah jika hati mengajakmu pada perkara yang selalu menyakiti hati-hati anak bangsa ini.

Di tulis oleh anak bangsa yang memperhatikan gelagat para pejabat bangsa.

oleh: Tuti Rina Lestari


Enggan Tersapa, Enggan pula menyapa. Setiap Tersingkapnya lembaran –demi lembaran episodenya senantiasa membuat jera. Alangkah indah saat hati di sapa, Alangkah nestapa pula jika hati terpedaya…
Dekap melekat dalam keimanan, Buai gemulai dalam keikhlasan. Bukan aku yang terpedaya tapi nuansa hati yang berkata…”YA”, Hingga ujung-ujung tabirnya tak bias pula aku baca…
Alangkah Indah jika dijerat hasrat bertaqwa…Gemulai mengbdi tiada henti…Jika sesekali berlari tak jadi hakiki Karena aku manusia yang berusaha mengabdi…
Ajarkan serta bujuk rayu aku hingga menuju satu titik keyakinan itu...jika kau tau tempat pencapaian titik keyakinan itu, Bawa aku menyelaminya hingga aku terbuai dan merasa kekal bersamaNya…
Duhai ,Iman…
Duhai, Takwa…
Ajarkan aku mengenalmu…Pekat melekat dalam sanubari dan hatiku…Hingga taakan ada labirin-abirin yang menghijab ku menuju titik ketenangan hakiki…Aku akan tetap merindu pada tahta imanku…
Bawa aku duhai imanku…mencapai tempat ketakwaanku…
Aku Merindu…Imanku…

"♥ Assalamu'alaikum...selamat datang di blog sederhana ini. semoga setiap rangkaian kata-kata bisa menginspirasi & memberi motivasi hingga menjadikan lentera penerang dalam hati...♥"

♥..Inilah Aku..♥

Foto Saya
Tuti R.Lestari
"Seorang hamba Allah yang senantiasa berusaha menjalankan titah-titah Rabbnya... Semoga setiap goresan pena dapat memberikan inspirasi dan Motivasi..."
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

:::: Translet ::::

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Entri Populer

Follow

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...