Kita adalah insan yang hidupkan buat sementara
kita adalah insan yang hakikatnya adalah hamba...
tapi mengapa sring kita tangguhnkan perintah waktu untuk menyembahnaya
tapi mengapa kita selalu leka dengan kewajiban sebagai hamba
Kita adalah insan yang dihidupkan buat sementara
kita adalah insan yang hakikatnya adalah hamba
Tapi mengapa kita selallu leka dengan kewajiban sebagai hamba
Tsedang tuhan tak pernah lupa untuk mencurahkan segala nikmatnya
bahkan Tuhan maha poenmgampun diatas segala dosa yang dialkukan bagai mereka yang insaf dan mau bertaubat...
Pejamkan mata, dan rasakan hangatnya...itulah kehadiran iman di hati kita...tersimpulkan sedikit kata-kata namun tidaklah terlalu bermakna. Kini kita sudah mengerti isyaratnya...Bukan karena cinta yang menjadikan aku berani, bukan karena paras yang menjadikan aku bertahan, bukan pula karena kedudukan yang menjadikan aku perjuangkan...tapi Iman yang amat manis telah ku teguk dari hakikat hikmah hidup yang telah aku jalani...tak perlu membahas masalah perasaan, tak perlu pula menceritakan pentingnya logika...yang terpenting adalah kita Menghamba...
simpan sejenak masalah logika dan perasaan lalu kita padukan akan hakikat ajaran...bukan aku dan kamu tetapi kita yang menyelusuri labirin-labirin menuju hakikat muara cinta...
Berpadu kita menghamba kepada Allah Yang Esa...Cinta berpadu dalam Taqwa...Allah...Allah...Allah
Biarkan cahaya dari keduanya terus terang dan benderang. Pancaran cahaya pagi menguatkan namun senja menentramkan…
seraya berada dipenghunjung senja ku tatap keindahannya, memukau, amat menawan serta menentramkan, namun amatlah singkat. Tak sedikitpun aku beranjak dari tempat semula untuk tetap menikmati keindahannya. Tertatap perlahan mentari pun terbenam, dengan penuh harap esok bisa menatapnya kembali. Bersama kepergian senja,tertunduk seraya berkata pada hati…”Hakikat rotasi dari sebuah bumi, berputar yang menjadikan siang terang benderang dan malam gelap, Allah telah memasukan malam kedalam siang dan memasukan siang kedalam malam…Hakikat dari kuasa Allah yang Maha Berkehendak”…perlahan tak terasa meneteslah air mata. “Senja amat memukau namun hanyalah sekejap saja kehadirannya” menghela nafas perlahan, namun terasa amat berat…
Setiba kumandang azdan magrib, senja pun berlalu…ku ambil air wudhu, meleburlah air mata bersama basuhan pertama pada paras yang berdosa…
Perlahan ku resapi, menikmati setiap rakaatnya seraya menghela nafas yang terasa berat…menghamba, merasa diri amat hina, tak menerima akan hakikat garis-garis Sang Pencipta Alam Semesta…”Biarkanlah senja berlalu, karena esok akan ada pagi yang memberi semangat, pancaran cahayanya yang kuat”….
Sudahilah wahai jiwa hampa kembalilah pada Rabb yang telah menetapkan segalanya, saat tergores dalam lauh mahfuz dan tinta telah mengering maka takdir seorang Hamba telah ditetapkan.
Mentari meronta, bunga pun tengadah kearah datangnya cahaya, sinarnya kuat memancar, mengeringkan embun-embun yang membasahi permukaan dedaunan. Menghangatkan namun terkadang pula menyilaukan, agar aku bertahan ku coba pejamkan mata dan merasakan hangatnya…menghembus nafas lalu seketika menghirup udara pagi sungguh amat menyegarkan, Semangat pagi…! Semangat pagi….! Ternyata cahaya pagi memang penuh semangat…tak seperti senja yang membuat sendu…selamat tinggal senja berkas cahaya yang tak hadir sekejap saja…
Bismillah aku melangkah…hari ini cukup panjang untuk ku lalui bersama sang mentari pagi…berkas cahaya penuh semangat…”Ya..Semangat pagi, semangat Pagi…!!!! Pagi…pagi…”.
Melangkah pasti….Meraih mimpi…Bersama hadir mentari pagi…^_^
Melangkah lalu berlari menyelusuri tempat-tempat indah, yang menumbuhkan serta membesarkan sang generasi yang arif dan bijaksana, tersenyum, terpukau akan karya yang dicipta. Tak bisa tertunda karena bersama datangnya cahaya disitulah saatnya berkarya untuk agama dan bangsa. Melangkah, melaju, mencipta karya, membangun generasi arif dan bijaksana, mengantarkan si kerdil ahlaknya agar menjadi besar jiwanya, dan dengan kebesarannya ia mencinta bangsa dan agama.
Selamat tinggal senja,…yang telah mengajarkan aku agar arif dan bijaksana…
Selamat Pagi, memberi semangat baru…menatap hidup lebih berwarna…
1 keping mozaik telah aku temukan, tersenyumlah dan bersyukurlah, hidup ini indah jika semua karena Allah…
Thank you Allah…^_^…
oleh: Tuti Rina Lestari
Saat ini hati terasa dekat, sungguh melekat ukhti...mengalir do'a untuk setiap pertemuan kita semoga Allah memberkahi, melimpahkan kasih sayangnya dalam hangatnya Dekapan Ukhuwah...Ukhti...Aku mencintai kalian karena Allah....
Ukhti sayang, Senyum, Tawa, Canda, dan nasehat kita bersama telah berpadu dalam bingkai indahnya Ukhuwah....
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu
Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai
Disatu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
Kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long
menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;
“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
willow tumbuh subur meski diabaikan”
maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali
“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”
padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan
maka seolah aku telah membiarkan
orang bisu yang merasakan kepahitan
menderita sendiri, getir dalam sunyi
-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-
dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk menegur
hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita
hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-
kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;
satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya
terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya
“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal
maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”
“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr
dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam
“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.
kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”
tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah
“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda
“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah
“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’
lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.
masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”
‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat
tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas
katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..
demi Allah akulah memang yang keterlaluan..”
lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang
ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu
mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami
pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini..
Telaga itu luas, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”
Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.
Tapi di antara alisnya yang tebal dan nyaris bertaut itu ada rona merah dan urat yang membiru tiap kali beberapa manusia dihalau dari telaganya. Dia akan diam sejenak. Wibawanya terasa semerbak. Lalu dia bicara penuh akhlaq, matanya berkaca-kaca. “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”
Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Di telaga itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.
Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu Al Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.
Salim A.Fillah
Duhai pelipur lara kau dicipta bukan dari manusia,malaikat atau pun cahaya.Amat menyejukan dan menentramkan saat kau mengelitik qalbu ini,aku tesenyum dan merasa terhibur.
Saat merasa lelah maka terpejamlah. Cahaya mentari terkadang menyilaukan, ibarat pancaran iman terang benderang kita tak bisa menatapnya, pejamkan saja mata, dan cukup rasakan hangatnya. Karena cahaya iman kita saling bergengaman tangan dan yakin arah jalan yang akan kita lalui. Sesakali kita hadapi jalan hidup ibarat di gurun. Amat melelahkan dan menguras energi, tapi yakinlah kita punya bekal yang bisa kita bagi. Iman kita ibrat oase d gurun, amat menyegarkan. Aku akan tetap menemani mu disetiap perjalanan hidup. Menuju gurun, belahan bumi utara hingga selatan bahkan arah timur yang tak pernah bertemu arah barat, akan ku temani mu karena aku yakin kau punya bekal yg akan membekali ku, dan kaupun akan memberikan tegukan-tegukan rasa syukur atas nikmat dari Rabb ku. Gengamlah jemariku lalu berlarilah kita menuju tempat-tempat terindah yang memberikan kehangatan iman pada kita, ajak aku menyelusuri kisah-kisah arif dan bijaksana agar aku bisa menginspirasi sang generasi. Gengamlah dan tuntunlah aku saat mata ini merasa lelah akan indahnya dunia.
oleh: Tuti Rina Lestari
oleh: Tuti Rina Lestari
Mitsaqan Ghaliza mengandung arti perjanjian yang kokoh.
1. Allah SWT membuat perjanjian dengan para Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (Al Ahzab 73:7)
2. Allah SWT mengangkat bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia pada Allah (An Nissa 4:154)
3. Allah SWT menyatakan hubungan pernikahan (An Nissa 4:21)

Perjanjian pernikahan antara suami dan istri disejajarkan dengan perjanjian para Nabi, perjanjian dengan bani Israil, sesuatu yang agung dan berat:)
Bercermin darai 3 poin penting dalam Mitsaqan Ghaliza, maka semua hamba Allah akan mengalaminya (seizin dan sekehendak Allah) yakni hanya untuk poin 3, yakni pernikahan. Allah telah menetapkan pernikahan sebagai perjanjian penting. Saat ijab qabul dilakukan memiliki makna bukan perjanjian antara 2 insan saja, melainkan perjanjian langsung dengan Allah SWT. Sungguh menikah memiliki kedudukan yang istimewa dalam sebuah perjalanan hidup manusia. Menikah dapat menundukan pandangan dan memelihara kemaluan, itulah janji Allah untuk hambanya. Aduhai nestapa jika manusia tak menjadikan menikah sebagai pelindung dari perbuatan zina.
Menikah dapat dijadikan sarana untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, banyak pahala melimpah ruah didalamNya, jika ikhlas dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Rasulullah menguatkan dakwahnya saat bersama istri-istrinya,Itulah tauladan Rasul tercinta kita.
Menikahlah, demi terjada pandangan...

------------------------------------------------------------------------------------------------
Renungan untuk jiwa yang Jatuh Cinta
Tertunduk berlama-lama aku tak mampu.
Sesekali ku tatap paras itu, mata penuh dosa ini mengiyakan
hatipun menyatakan akan kekaguman.
Menagislah akan dosa-dosa, nestapalah wahai jiwa-jiwa hampa
Malulah pada sang pemilik Cinta.
Aku tak berdaya, jika terus mencinta seorang hamba Mu.
Cabut dengan perlahan rasa cinta ini, lalu hembuskan dengan seketika kecintaan hanya Kepada Mu Ya Rabbi
Aku seorang hamba Mu yang tertatih-tatih mempertahankan segengam Qalbu hanya untuk Kau jadikan Singgasana Iman pada Mu.
Duhai Rabb ku, jika aku harus menjerit, memecah keheningan di langit,aku ingin teriakan aku ini hamba Mu yang lemah tak berdaya.
Ya Rabb...ajarkan aku bagaimana cara mencinta hamba Mu, yang tak membuat Mu Murka pada ku...
Ya Rabb...bisikan pada ku akan hakikat mencintai hamba Mu, hanya sebatas yang Engkau Rindoi...
Ya Rabb aku mencintai hamba Mu...Jika Kau Tak Meridhoinya, cabutlah perlahan dan seketika hembuskan rasa cinta ini hanya kepada Mu...
Tahta Iman ku ada dalam Qalbu...
Genggamlah Qalbu ini, agar aku taat hanya pada Mu..
Aku
Mencintai
Mu
Di
Atas
Segala
Cinta
...
Oleh: Tuti Rina Lestari

Mentari pagi itu terpancar amat kuatnya, jika merasa menyilaukan maka terpejamlah dan rasakan hangatnya. Setiap hari kita akan merasakan hangatnya mentari, menyaksikan terbit dan terbenamnya. Aku bahagia berada disini, saat menunggu mentari meronta. Genggamlah jemari ku kita berlari menuju tempat terindah yang mengajarkan kita akan hikmah kehidupan sesungguhnya. Saat berpetualang terkadang aku merasakan lelah maka pinjamkan pundak mu untuk sejenak ku hilangkan rasa lelah dalam menempuh pertualangan kita. Tenanglah, diamlah, dan jangan berkata apa-apa saat aku terlelap di pundak mu...agar aku terlelap dan diam-diam kau bisa menatap paras ku. Tersenyumalah kamu, tersipu malu.
Sejenak pundak mu kaku menunggu ku terbangun, maka bersabarlah...saat aku terbangun tersenyumlah, maka aku pun tersenyum. Kau selalu terjaga saat ku tidur, maka beristirahatlah sejenak...namun pundak ku terlalu kecil untuk kau sandarkan dan kau pun tersenyum...lalu berkata "Mari kita berpetualang lagi"...aku pun tersenyum, kau amat penuh pengertian.
Kita berlari-lari sambil menikmati keindahan Maha Karya Sang Pencipta...Terkagum-kagum kita, hingga tak terasa kita berasa di sebuah telaga...airnya jernih, banyak pohon lebat di sekitarnya. Kita berdiri di bibir telaga itu...tertatap paras kita di permukaan air telaga ...kita saling tersenyum. Lalu seketika kau jongkok dan mengambil air dari telaga itu dengan tangan mu, lalu kau berikan untuk ku, sambil tersenyum. Tanpa isyarat kata aku memahaminya, kau ingin menghilangkan dahaga ku, lalu ku teguk dengan perlahan...sungguh segar air telaga itu. tersenyumlah aku...lalu ku ambil pula air telaga itu dengan tangan ku...maafkan aku jemari dan tangan ku teramat kecil tak bisa mengambil air banyak, tapi kau tetap tersenyum. Kau teguk air dari tangan ku, lalu tersenyum...hilanglah dahaga kita.
Beberapa saat kemudian kita berjalan menuju pohon yang rindang, kita pun duduk disana...Mata kita saling menatap...tersenyumlah kita tersipu malu...Kau bisikan pada ku..."Allah yang telah mengembuskan rasa kasih kepada hambanNya, maka kita harus mensyukurinya"...tersenyumlah aku...Lalu ku bisikan pula "Aku pun menyayangi mu, karena Allah telah menghembuskan rasa sayang ini "...dan kita pun tersenyum...lalu kau mengajak ku untuk berwudhu, dan kita tegakan salat ashar bersama di bawah rindangnya pohon...rakaat pertama hingga dua , hujan gerimis menghiasi kesahduan kita yang sedangan membalut cinta pada Rabb kita....Rakaat ketiga saat duduk diantara dua sujud semilir angin berhembus hingga menyelusup sendi-sendi ku...hingga membuat kaku. Rakaat keempat saat ku rukuk menetes air mata syukur atas segala nikmat yang telah Rabb hujamkan pada ku...Aduhai sungguh indahnya kita di balut dalam dekapan kehangatan iman...stelah salam kau bawa aku meyelusuri relung-relung qalbu...kau ajarkan aku memecahkan kekerasan hati yang telah membeku..."Ya Rabb...kami hamba Mu, yang lemah...Ya Rabb kami hamba Mu yang tak berdaya, Ya Rabb kami hamba Mu yang dzolim...Engkau Maha Segala di Atas Segalanya...Hujamkan pada hati kami kenikmatan akan iman. Keindahan saat berislam...Ya Rabb jadikan pasangan hamba sebagai penyejuk Qalbu, Jadikan anak-anak kami sebagai pelipur lara, dekap kami dalam iman dan Taqwa serta Tawakal hanya kepada Mu...Amin."
Inspirasi: Saat jiwa Rindu Pecinta Sang Pemilik Cinta







