Alhamdulillah...,
jika menunggu hingga terbenam, maka berderailah...
satu tahun lamanya, sama rasanya, mendayuh mencari hilir hingga tergelincir...
ku ulur waktu menunggu senja tenggelam,
alangkah menyesal dahulu tak ku laju perahu,
kini tertegun menanti kembali angin berhembus membentangkan layar perahu,
dalam suasan senja penuh tegur sapa,
jika hanya bisa membenam rasa, maka tersiksalah kita
entah apa yang ku rasa, masih sama seperti satu tahun yang lalu,
kegelisahan, kecemasan, dan harapan, membentang pada paras yang kian mengelam,
telah pasti takdir ini, aku tetap disini, kaupun melaju terlebih dahulu...
"Bacalah dengan nama Tuhan mu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
Tersenyumlah, saat derita menyapa sebagai pengobat lara. Senyuman yang menentramkan insan yang sedang kebimbangan...dikala umat bahagia akan kehadiran mu sebagai penyubur iman, namun kau pergi karena hakikatnya kaupun manusia. Kau pengobat lara, penyejuk qalbu dan petunjuk ketentraman hidup..Ya Rasulullah. Tak terbayangkan kesedihan yang terasa saat jasad mu dipangkuan Humairah, saat menunggu ketika roh mu diangkat bertemu Yang Esa, sungguh tak terbayangkan melepas dan merelakan kepergian mu. Derai-derai air mata dikala itu, sungguh saat itu sukarnya umat percaya bahkan Uammarpun tak menduga akan kepergian mu, namun pengobat lara saat kau berkata...”Umati...Umati ku ridu umat ku” Ya Rasulullah. Saat ajal menjelang namun kau masih mengingat kami umat mu...betapa kau mencintai umat mu.
Ya Rasulullah, telah kau tinggalkan kami warisan yang abadi dan kamipun bersaksi bahwa sesungguhnya kami merindukan mu...Ya Rasulullah telah sampai ajaran dari mu pada kami, umat mu. Sungguh kami bahagia karena ajaran mu telah mengantarkan kami kepada kecintaan kepada Yang Maha Rahman dan Rahim, Allah SWT. Ya Rasulullah telah sampaikah salawat kami untu mu, keluarga mu dan sahabat-sahabat mu? Sungguh kami merindukan mu...dan kami bersaksi bahwa Allah Tuhan kami, dan engkau sebagai Rasul kami...
Dimanakan ku cari ganti serupa dengan mu,tek sanggup ku berpisah dan berhati patah hidup gelisah...alangkah pedih rasa hati selam akau pergi, tiingglkan kami sendiri tiada teman di dalam sepi..... Dimna kanku cari ganti mungkinkan di Surga untuk kita berjumpa di saat gembira selama-lamanya...
Ar-Royan 07 Kampus Peradaban, 18 Rabi’ Al-Thani 1433 H
Menjelang waktu Duha,
Sekitar lorong-lorong di rumah sakit, terlihat banyak pasien yang sedang menunggu dokter. Ada seorang kakek duduk di bangku, sesekali ia melihat jam tangannya. Seorang suster memperhatikan sang kakek dari tadi, lalu iapun bertanya..”kek, sepertinya sedang terburu-buru...apa kakek ada janji juga dengan dokter yang lain?”...
kakekpun tersenyum ”sudah hampir 1jam saya menunggu, dokter belum saja datang padahal saya ada jaji penting sebentar lagi”
susterpun mencoba menahan kepergian sang kakek” sebentar lagi kek, dokter sedang di perjalanan menuju rumah sakit”...
sang kakek langsung berdiri dan di genggamnya tongkat bambu, lalu ia lihat lagi jam tangannya ”maaf saya harus pergi...”
susterpun bertanya..”sebetulnya kakek mau pergi ke mana?...”
“saya harus segera menemani makan siang istri saya di panti jompo, jika saya tidak pulang sekarang, saya akan telat sampai di sana...”
Susterpun melontarkan senyum pada sang kakek, hingga pujian keluar dari bibir suster...“ kek pasti, nenek sangat bahagia saat kakek datang, ketika selalu ditemani makan dan bercerita berdua”.
“Hmmm....bagi saya inilah keharusan, kebahagiaan di saat usia senja bisa saya dapatkan dari sini salh satunya, tetap bersama stri yang saya cintai. namun entah apa yang di raskan istri saya, apakah ada rasa cinta pada kakek atau tidak, sekarang istri kakek sudah pikun. Jika kakek menemaninya, terkadang kakek ini di anggap orang lain, tapi kakek memaklumi itu.” Kakekpun tersenyum dan mulai bergegas unutk pergi.
Susterpun semakin kagum pada sang kakek tersebut...”jika begitu, kakek pulang saja temani nenek, mungkin sudah dari tadi nenek menunggu kakek. Nanti saya sampaikan pada dokter bahwa kakek sudah pulang” ...kakek pun tersenyum lalu dilangkahkan kakinya menuju ke luar rumah sakit dan pergi bergegas ke tempat jompo dimana ia dan istrinya bertempat tinggal...
Sepenggal cerita di atas, saya tulis dari cerita seorang teman yang menginspirasi. Makna yang tersirat seputar kesetiaan, pengorbanan dan keikhlasan. Tentunya hal kesetiaan, pengorbanan dan keikhlasan amat terkait dengan cinta dan kasih sayang maka dengan kesetiaa dan pengorbanan tersebut semua akan teramu menjadi utuh dan kokoh. Kasih sayang sebagai bingkainya, memberikan nafas pada ketenangan. Andai bisa di bangun sebuah kesetiaan, keikhlasan dan pengorbanan maka mulailah dari kasih sayang terleih dahulu. Ibarat kan membangun sebuah istana, maka yang terkokoh adalah pondasinya, yaitu niat akan komitmen kesetiaan dan rela berkornban...
Jika seorang suami sudah tidak lagi merespon bahkan kurang memperhatikan harapan, kebutuhan dan rasa tentram seorang istri maka sudah jelas suami tidak menyayangi istrinya. Mengapa bisa tidak ada rasa sayang bersemayam dalam hatinya? Tentunya banyak sekali alasan, karena tidak cinta, karena tidak suka, dan lain-lain? Tapi, yang heran mengapa mau menikahi? Yups jawabannya kehendak Allah yang lebih Berkuasa menakdirkan keduanya bersatu. Banyak sekali pernikahan yang di jalani oleh kedua suami–istri namun terasa menyesakan dari hari-kehari... bahkan hingga bertahun-tahun seorang suami tidak bisa menumbuhkan rasa cinta pada istrinya, begitupun sebaliknya. Masya Allah, padahal masih ada orang lain yang belum menikah dalam usia yang tua, hanya hidup menyendiri. Maka sudah seharusnya seorang suami ataupun istri bersyukur akan pasangannya, seperti apapun pasanannya. Maka berusahalah selalu memahami, membahagiakan, dan menyayangi istri maupun suami.
Jika harus memilih antara mempertahankan sebuah pernikahan atau tidak. tentunya dikembalikan kepada kedua pasangan. Jika berceri mejadi jalan lebih baik, bisa saja di ambil jalan tersebut, namun perlu di ingat perceraian hal yang di benci Allah, namun Allah tidak melarangnya...maka pertimbangannya di kembalikan kepada mana yang lebih maslahat maka dipilih, sedangkan hal madhorot maka jangan dilakukan....
Semoga kita termasuk kedalam mansia yang memiliki kesetiaan yang dibangun atas landasan iman, komitmen, pengorbanan menjadikan landasan dalam mengarungi bahtera pernikahan.
....Muhasabah....
-Masih Tersapa-
Kehendak Yang Esa, masih tersimpan sempurna.
Mentari bergeliat siggah di Barat hingga Timur, namun tetap sama.
Tegur rasa, saat tak bisa menyapa hanya berdiam diri saja, namun bukan berarti diam pula hati.
Ada kerinduan yang dirasa dari awal berjumpa hingga terlerai karena goresan Yang Esa.
Berjumpa saat hati tertata, namun tertingal jadi lara.
Bias cahaya mentari tidak pernah sama setiap saatnya, begitupun suasana hati kita...jujur pada hati meras ada yang sama dari dulu hingga kini, tidak pernah mencoba membangun, tidak pula merobohkan.
Jika ditanya apakah setia? Entahlah.
Jawabannya, saat usia senja menjadi ujung akhirnya, saat renta menyapa maka terjawab semua kesempurnaan kita akan kata “apakah kita setia”.
Kekasih ku, akau mulai mencintai mu. Saat kau hulurkan nasehat akan iman, saat kau hantarkan akau pada keyakinan.
Kekasih ku, genggaman jemari mu semakin ku kenali, karena engakau telah mendampingi ku, usap kasih...telah membekas dalam hati.
Kekasih ku, saat mata ini terpejam untuk selamanya maka jagalah iman mu, sertakan pula do’a mu untu ku...
Kekasih ku, kini telah sampai pada usia senja kita. Maka tetaplah disini hingga terbenam menjadi gelap gulita dan kitapun tiada...
Iman mu dan iman ku menjadi bekal hingga kita masih bisa duduk bersama, tertawa bahagia, menderaikan air mata, dan menjaga iman bersama.
Ya Allah, jagalah kestiaan kami hingga terpejamkan untuk selamanya mata ini...Engkaulah Maha Pengasih Maha Penyayang.
23 Rabi’ Al-Thani 1433 H
Ar Royan Kampus Peradaban
“Bersama lantunan senandung Duhai Pendampinh-Ku, By.Edcaustik”
Tergoresakan untuk kedua orang tua, menikmati cinta saat usia senja ....Barakallah
Bersaksi cinta diatas cinta
Menerka hati yang tersembunyi
Berteman dimalam sunyi penuh do’a
Sebut nama Mu terukir merdu
Tertulis dalam sajadah cinta
Tetapkan pilihan sebagai teman
Kekal abadi hingga akhir zaman
Istikharah cinta memanggilku
Memohon petunjukmu
satu nama teman setia
Naluriku berkata
Dipenantian luahan rasa
Teguh satu pilihan
Pemenuh separuh nafasku
Dalam mahabbah rindu
By. Sigma
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan di Ridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku.” Al Fajr:27-30
Ada rindu serta asa, terbayang kelembutan, keikhlasan yang tulus. Rindukah? Yentu! tanpa tertatap, dan menyapa kerinduan ini terasa. Kelak apakah kita bisa berjumpa? Allahlah yang akan mempertemukan kita, Amiin. Saat telaga itu membentang dan mengalirkan kesegarannya, menanti umat yang taat. Keindahan sempurna , paras bersinar, sosok yang takwa, tersenyum manis dan berdiri memanggil “wahai ummati mendekatlah dan teguklah kesegarannya”. Sungguh skenario yang indah yang telah Allah gambarkan di surga kelak. Telaga yang indah itu, Kautsar tempat pertemuan yang dijanjikan. Allah perkenankanlah hamba berada disana menegauk dan merasakan kenikmatannya, memegang gelas terang seperti bintang gemintang, bersama manusia mulia yang telah Engkau tinggikan kedudukannya. Dahulu pernah berkata ia, merindukan kami umatnya yang jauh dan tak pernah bertatap paras, namun menegakan sunah-sunahnya. Jika itu kami, maka istiqamahkan kami untuk tetep berada dalam jalan menuju kedekatan kami kepadanya. Ya Rabbi bantulah kami, senantiasa gerakan hati dan jiwa kami agar bisa bertemu di telaga indah itu. Jika kotor hati dan jiwa kami, maka mudahkanlah langkah kami untuk membersihkannya, hingga kami berada di sana menatap keindahan parasnaya, paras manusia mulia yang telah lama menuntun kami dan mengenalkan Enggkau sebagai Rabb kami...
Dima kan ku cari serupa dengan mu, tak sanggup ku berpisah dan berhati patah, hidup gelisah. Alangkah pedih rasa hati selama kau pergi, tinggal kami sendiri tiada berteman di dalam sepi, Ya Rasulullah. Dunia kelam menjadi derita, cahaya indah, keluhan hati ku menambah derita rindukan dikau jauh di mata. Dimana kan ku cari ganti mungkinkah di surga? untuk kita berjumpa di saat gembira selama-lamanya...
Terbuka luas merubah langit Ramadah Al Mubarak, terpancar cahaya putih menggetahkan abid yang berujlah. Bagaikan petir di dalam gua hira, lembar Al-Quran yang pertama,dan bermulailah kehidupan Rasulullah menyampaikan amanah dari Tuhannya. Bacalah dengan nama Tuhan mu yang menciptakan, Bacalah dengan nama Tuhan mu yang pemurah, Bacalah dengan namau Tuhan mu yang Menciptakan, Bacalah dengan nama Tuahan mu yang pemurah. Bacalah...Bacalah..Bacalah. Hingga terbuka luas ubah langit detik gemilang wahyu yang pertama.
Imam ku dan ayah dari anak-anakku,engkau yg membersamai perjalananku nanti....
♥ Aku percaya kau sedang memperbai...ki dirimu, memantaskan dirimu tuk menjadi imam bagi tulang rusukmu dan buah hatimu kelak
♥ Aku percaya kau sedang menempa dirimu dalam beribu cobaan dengan menelantarkan dirimu sendiri pada medan dakwah dan problematika ummat… mencampakkan jauh egomu, membaktikan dirimu tuk ummat
♥ Aku percaya kau sedang mengkaji, kau sedang belajar,belajar ilmu dunia terutama ilmu akhirat,yang akan kau gunakan dalam mendidikku dan buah hati kita nanti
♥ Aku percaya Al-Qur'an selalu ada dalam hatimu, selalu terucap dari bibirmu dan dzikir slalu melantun menemani langkah jihadmu
♥ Aku percaya kau sedang menundukkan pandanganmu,menjaga hatimu dan mencampakkan hawa nafsumu
♥ Aku percaya kau sudah merancang hidupmu, hidup kita, keluarga kita, nantinya juga untuk dakwah, untuk ummat, dan hanya karnaNya
♥ Aku percaya,kau sedang memantaskan diri dan terus memperbaiki diri dsana, di belahan bumi manapun kau berada
♥ Aku pun begitu , sama seperti mu...
♥ Aku sedang belajar… belajar menempa diri,menjauhkan egoku demi ummat, membaktikan diriku untuk orang lain,agar baktiku padamu pun sempurna
♥ Aku sedang belajar, meniti dakwahku, meniti cita-cita duniaku, meniti cita-cita akhiratku, agar kelak keluarga islami dan kluarga Qur’ani yg aq inginkan nanti dapat kubangun bersamamu… karna kau tahu?meskipun kau imamku, ibu adalah madrasah pertama bagi mujahidah kecilnya nanti
♥ Aku sedang belajar menjaga diri,menjaga pandangan dan hatiku,agar ketika kau memiliki hati ini, hati ini masih utuh sempurna hanya untukmu
♥Aku sedang menempa diri, untuk menjadi seorang Khadijah untukmu,yang menjadi tempatmu membagi resah… seseorang yang kau datang padanya, saat kau tak tahu lagi akan datang pada siapa… seseorang yang menguatkanmu dan menggenggam slalu tanganmu dalam perjalanan jihadmu
♥ Akupun ingin menjadi ‘aisyahmu, seorang yang membuatmu tersenyum dan kembali ceria saat penatmu mulai datang,seorang yang menyerap ilmu darimu dengan sempurna dan membenarkan apa-apa yang salah dalam lakumu, seseorang yang mencintaimu dengan cemburunya, namun kau rasakan sakitnya,saat ia tersakiti, hingga kau katakan pada yg lain “janganlah kau sakiti aku dengan cara menyakti ‘aisyah”
♥ Aku ingin mejadi fatimah, yang tak kau bagi cintamu pada yang lain.. bukan karna aku tak percaya kau tidak dapat berlaku adil,tapi karna aku ingin mencintaimu dengan sempurna,tanpa diganggu oleh cemburuku,itu saja
♥ Tak kalah lagi, aku ingin menjadi seperti ibunda hajar, yang tak gentar saat kau tinggalkan di padang pasir tandus dengan seorang bayi mungil di pelukan.. tak takut akan kehilanganmu, karna keyakinanku pada Rabbku lebih besar daripada yakinku padamu cintaku padamu,tak akan mengalahkan cintaku pada Rabbku… usahaku ini tidak mudah sayang,begitupun usahamu..kuyakin itu.. maka tetaplah dalam jihadmu..tetaplah dalam usahamu..tetaplah dalam ikhiarmu… aku yakin kau kuat disana,dan doakanlah agar akupun kuat dsni dalam jihad dan ikhtiarku,bawalah aku dalam tiap doa dan sujudmu,kumohon karna doa yg dapat menolongku hingga saatnya, kita bertemu dalam ikatan suci menyempurnakan separuh dien dan kita akan melanjutkan jihad kita bersama dan nanti..terimalah aku apa adanya jika aku belum bisa mejadi khadijahmu,‘aisyahmu atau bahkan menjadi seperti ibunda hajar tapi bimbinglah aku menjadi seperti mereka dan kita bimbing bersama mujahid muda kita nanti tuk melanjutkan estafet perjuangan dakwah ini… teruntukmu yang ada disana,kuatlah..dan bersabarlah bawalah aku dalam doa dan sujudmu,agar cinta kita nanti, hanya karnaNya…Aamiin ya Rabbal'alamin,♥
Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir
(¯`v´¯).♥Sebelum Engkau Halal Bagiku♥.(¯`v´¯)
`·.¸.·`¸•´♥..♥♥¸•´♥♥♥ (´'`v´'`)(´'`v´'`)`·.¸.·`
..¸.•´♥..♥♥.♥♥..♥`•.¸.•´.(¯`v´¯)(¯`v´¯).`•.¸.•´♥..
♥•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♥♥♥♥•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♥
♥*ღ☆**ღ ANA UHIBUKKA LADZI AHBABTANI LAHUUღ☆ღ*♥*
(¯`v´¯)♥SALAM SANTUN UKHUWAH♥.(¯`v´¯)
`·.¸.·`(´'`v´'`) ♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥(´'`v´'`)`·.¸.·`
..♥♥..♥`•.¸.•´.(¯`v´¯)(¯`v´¯).`•.¸.•´♥..♥♥..
♥•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♥♥♥♥•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♥
Sumber:
mentari meronta hingga senja menyapa, kaki-kaki kecil nan mungil bergegas mencari untuk isi kepala.
jejak jejaknya telah tertinggal di atas bumi. sebagi saksi lautan dan ikanpun turut berdo'a kemanapun ia berlari.
bocah kecil kini telah tumbuh dewasa, apa yang ada pada otaknya menjadi prilakunya.
wahai generasi penerus Bangsa! terasakah beban berat terpikul di pundak?
perhatikan di pelosok nusantara? bocak kecil menjerit jerit hanya karena ingin bisa membedakan antara huruf A B dan C saja! bagaimana dengan keadaan di tengah kota? hiruk pikuk anak muda yang meggila karena dokrin dokrin yang membuat lumpuh ahlaknya.
mecoba menghela napas panjang....hingga beban ini terasa ringan saat aku, kamu, dia, dan kita bersama berbagi memperbaiki bangsa dengan pena, lisan dan sepercik ilmu yang kita balut dalam ..."pendidikan"...berbangg
Oh kau kiranya, bertemu pula
Setelah 15 tahun kita berpisah
Janganlah gugup. Sudahkah sembuh luka hatimu?
Di aku sudah! Tapi payah aku melipur jejaknya
Parutnya masih berkesan di dadaku
15 tahun, bertemu pula
Setelah kita lalui jalan hidup masing-masing
Maafkan daku. Bersiapakah aku mestinya
Adinda, kekasih, juwita yang pernah kuucapkan di mukamu dulu
Atau dalam surat-surat yang pernah kukirimkan
Tidak ‘kan kuucapkan lagi
Aku takut,
Obat lekat pantang terlampau
Kembali penyakit lama




