♥ Lentera Qalbu ♥

Cermin Hati menuju Inspirasi


Suatu hari saat chatting YM, saat aku belum memiliki akun FB..

”Ada FB ga?”

”Ga ada. Adanya blog multiply. perempuanlangitbiru.multiply.com..”

Tak berapa lama kemudian.

”Kok foto di MPmu (multiply, red), anak kecil semuanya siih? Fotomu mana?”, tanya seorang akhwat yang baru dikenal dari forum radiopengajian.com.

”Itu semua foto keponakanku yang lucu..”, jawabku.

Suatu hari di pertemuan bulanan arisan keluarga..

"De' kok di FBmu ga ada fotomu siih?" tanya kakak sepupu yang baru aja ngeadd FB-ku.

"Hehe.. Ntar banyak fansnya.." jawabku singkat sambil nyengir.

Suatu siang di pertemuan pekanan..

"Kak, foto yang aku tag di FB diremove ya? Kenapa kak?" tanya seorang adik yang hanya berbeda setahun dibawahku..

"He.." jawabku sambil senyum nyengir yang agak maksa.

Suatu malam di rumah seorang murid.

”FBmu apa? Saya add ya..” tanya bapak dari muridku.

Setelah add FBku sang bapak bertanya, ”Kok ga ada fotonya siih?”

Aku hanya bisa ber-hehe-ria.

Dari beberapa kejadian itu, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa yang pertama kali dilihat orang ketika meng-add FB seseorang adalah fotonya. Entahlah apa alasannya, mungkin memang ingin tahu bagaimana wajah sang pemilik akun FB, padahal kan yang di add biasanya yang sudah dikenal. Lantas jika memang sang empunya akun tidak memajang foto dirinya di FB, langsung deh jadi bahan pertanyaan, bahkan untuk seorang akhwat sekalipun.

Jika ditilik-tilik, fenomena foto akhwat yang bertebaran di dunia maya nampaknya sudah bukan barang asing lagi. Kita dengan mudah menemuinya termasuk di FB. FB yang merupakan suatu situs jejaring sosial begitu berdampak besar bagi pergaulan masyarakat dunia, pun termasuk pergaulan di dunia ikhwan akhwat.

Maraknya foto akhwat yang bertebaran di FB, membuat LDK (Lembaga Da’wah Kampus) suatu kampus ternama harus membuat peraturan yaitu tidak memperbolehkan akhwat aktivis da’wah kampus memajang foto dirinya di FB. Tentu saja banyak reaksi yang muncul dari peraturan dan kebijakan itu, mulai dari yang taat menerima dengan lapang dada sampai ada juga yang mem’bandel’. Namun apalah arti sebuah peraturan jika memang kita tidak mengetahui fungsi dan tujuannya dengan benar, dapat dipastikan peraturan hanya untuk dilanggar jika ditegakkan tanpa kepahaman.

***

Di suatu pertemuan para akhwat aktivis da’wah kampus..

”Ayolaaah, foto bareng..” rayuku sebagai fotografer ketika terheran-heran melihat seorang akhwat yang tidak mau ikut foto, menjauhi kumpulan akhwat yang siap-siap berpose.

Selidik punya selidik ternyata akhwat tersebut kapok untuk difoto karena fotonya beredar di FB padahal dia ga punya FB. Fotonya bisa beredar di FB karena teman-teman satu jurusan mengunduh foto momen bersama di FB yang tentu saja ada dirinya di dalam foto itu. Padahal saat itu, aku belum punya FB (hanya memiliki blog di multiply) dan tidak terbersit sedikit pun berniat untuk mempublish foto itu di dunia maya, yaaa hanya untuk disimpan di folder pribadiku. Foto kebersamaan dengan para saudari seperjuangan yang bisa membangkitkan semangat di saat-saat tak bersemangat, hanya dengan melihatnya.

Jika diperhatikan dengan seksama, ternyata benar bahwa orang-orang termasuk akhwat sudah terbiasa berkata, ”Nanti jangan lupa di upload n di tag in di FB ya..” setelah melakukan foto bersama.

Benar saja! Di suatu kesempatan berselancar di dunia maya, di saat aku akhirnya memutuskan membuat akun FB, melihat-lihat, berkunjung ke FB para akhwat, dan ternyata benar saja foto-foto akhwat dengan mudah dilihat para pengguna FB yang telah menjadi temannya. Aku yang memiliki kepribadian idealis-pemimpi agak terkejut juga melihat hal itu, secara baru terjun di dunia perFBan.

Terkejut karena kecantikan para akhwat dengan mudah dinikmati oleh orang lain. Aku agak bingung juga harus bagaimana melihat fenomena akhwat facebook-ers. Ada kekhawatiran apakah terlalu idealisnya pikiranku yang mungkin sebenarnya mengunduh foto sudah menjadi hal yang biasa saja di kalangan para akhwat. Itulah realita yang ada. Entah apa yang melatarbelakangi para akhwat akhirnya mengunduh foto pribadinya atau bersama rekan-rekannya di FB.

Hingga akhirnya pada suatu hari, terjadilah sebuah percakapan:

”Kenapa siih yang dilarang majang foto itu cuma akhwat? Kenapa ikhwan juga ga dilarang?? Bukannya sama aja ya? Sama-sama bakalan dinikmati kecantikan atau kegantengannya kan?” tanyaku bertubi-tubi kepada seorang saudari yang sepemikiran denganku tentang fenomena foto akhwat di FB.

”Ya beda-lah.. Coba kita liat para cewek yang ngefans sama artis-artis cowok Korea, mereka cuma ngeliat cowok Korea itu sekadar suka-suka yang berlebihan.. Udaaaah, hanya sebatas suka ngeliat. Tapi kalo cowok yang ngeliat foto cewek, itu beda. Kamu tau kan kalo daya lihat para cowok itu berbeda? Ada pemikiran-pemikiran tertentu dari para cowok ketika melihat seorang cewek bahkan hanya sekadar foto.”

Hmm.. yayaya.. Memang aku pernah mendengar bahwa daya lihat seorang laki-laki itu 3 dimensi. Laki-laki bisa membayangkan dan memikirkan hal-hal yang abstrak diluar dari yang dia lihat. Bahkan katanya lagi, seorang laki-laki bisa saja memikirkan seorang perempuan tanpa berbusana hanya karena melihat seorang perempuan yang berbusana mini berlalu di hadapannya. Namun kebenaran itu belum bisa kubuktikan karena aku hanyalah seorang perempuan biasa bukan seorang laki-laki.

Pantas saja Allah memerintahkan kita untuk menahan pandangan, seperti dalam firman-NYA:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. . . . .” (QS. An-Nuur [24] : 30-31)

Ayat ini turun saat Nabi Shalallahu a’laihi wassalam pernah memalingkan muka anak pamannya, al-Fadhl bin Abbas, ketika beliau melihat al-Fadhl berlama-lama memandang wanita Khats’amiyah pada waktu haji. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa al-Fadhl bertanya kepada Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam, “Mengapa engkau palingkan muka anak pamanmu?” Beliau Shalallahu a’laihi wassalam menjawab, “Saya melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka saya tidak merasa aman akan gangguan setan terhadap mereka.”

Dari ayat diatas dapat dilihat bahwa yang diperintahkan untuk menahan pandangan bukan saja laki-laki namun juga perempuan. Untuk itu, sudah seharusnya kita menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak seharusnya kita pandang.

Lalu apa hubungannya dengan pemajangan foto di dunia maya?

Jika dulu kasus menjaga pandangan hanya karena bertemu dan bertatap langsung, namun saat ini sudah lebih canggih lagi, tanpa bertemu dan bertatap pun, godaan menahan pandangan itu tetap ada. Ya! Bisa jadi dengan banyaknya bertebaran foto akhwat di dunia maya, itulah godaan terbesar. Buat para ikhwan, harus mampu menahan pandangan di saat berselancar di dunia maya, di saat-saat kesendirian berada di depan layar komputer ataupun laptop. Kondisikan hati terpaut dengan Allah saat-saat kesendirian, jangan sampai kita menikmati foto akhwat yang bertebaran di dunia maya. Buat para akhwat, yang memang merupakan godaan terbesar bagi para ikhwan, akankah kita terus menciptakan peluang untuk membuat para ikhwan ter’paksa’ memandangi foto-foto pribadi kita?

***

Kejadian demi kejadian yang kutemukan di dunia maya begitu banyak menyadarkanku akan pentingnya seorang akhwat menjaga dirinya untuk tidak mudah mengupload foto dirinya di dunia maya.

Beberapa hari belakangan ini, ketika sedang mencari desain kebaya wisuda untuk muslimah berjilbab di mesin pencari google, diri ini dipertemukan dengan sebuah blog yang bernama 'jilbab lovers'. Pecinta jilbab. Ya! Sesuai namanya, di blog itu berisi hampir semuanya adalah foto-foto muslimah berjilbab dengan berbagai pose. Di antara beberapa foto muslimah berjilbab itu, aku temukan 3 komentar yang mengomentari foto seorang gadis, aku akui gadis dalam foto itu sungguh cantik, memenuhi kriteria wanita cantik yang biasanya dikatakan sebagian besar orang. Beginilah kurang lebih komentar 3 orang laki-laki pada foto gadis itu dengan sedikit perubahan:

”Itu baru namanya gadis .. cantik nan islami.. sempuuuuurnaaaa... salam kenal..”

”Subhanallah ada juga makhluk Allah seperti ini ya..”

”Subhanallah..”

Jika kita lihat ke-3 komentar diatas, bisa dilihat bahwa komentarnya begitu islami dengan kata-kata Subhanallah namun juga menyiratkan bahwa sang komentator begitu menikmati kecantikan sang gadis di dalam foto. Hal ini menandakan bahwa siapapun yang melihat foto itu memang pada akhirnya akan menikmati kecantikan sang gadis berjilbab. Allahurobbi, akankah kita -para akhwat- rela jika kecantikan diri kita dapat dengan bebas dinikmati oleh orang lain yang belum halal bagi kita bahkan belum kita kenal?

Mungkin akan ada sebagian dari kita -para akhwat- yang akan menepisnya, ”Aaahh,, itu kan foto close up. Kalo foto bareng-bareng ya gpp donk?”

Hmm.. ada satu lagi yang kutemukan di dunia maya mengenai foto muslimah berjilbab. Pernah suatu hari, ketika diri ini mencari gambar kartun akhwat untuk sebuah publikasi acara LDF (Lembaga Da’wah Fakultas) di mbah google, kutemukan foto muslimah berjilbab yang sudah diedit sedemikian rupa hingga menjadi sebuah gambar porno. Memang gambar itu tidak kutemukan langsung diawal-awal halaman pencarian google, tapi berada di halaman kesekian puluh dari hasil pencarian keyword yang aku masukkan. Terlihat foto wajah sang muslimah begitu kecil (kuduga dicrop dari sebuah foto) dan dibagian bawah wajah sang muslimah berjilbab diedit dengan dipasangkan foto/gambar sesuatu yang seharusnya tidak diperlihatkan. Naudzubillahimindzalik..

Bagaimana perasaan kita jika seandainya melihat foto diri kita sendiri yang sudah diedit menjadi gambar porno dan dinikmati oleh orang banyak di dunia maya? Atau bagaimana perasaan kita jika ada kerabat dekat yang melihat foto kita yang sudah diedit sedemikian rupa menjadi gambar porno?

Semoga saja hal ini tidak menimpa diri kita. Ya Rabb,, bantu kami –para akhwat- untuk menjaga kemuliaan diri kami..

Mungkin kita bisa mengambil teladan dari kejadian di bawah ini...

Suatu ketika, diri ini menemukan blog (multiply, red) seorang ustadz. Dalam blog itu, terlihat foto sang ustadz bersama ketiga anaknya yang masih kecil, tanpa terlihat ada istrinya. Di bawah foto itu diberi keterangan, ”mohon maaf tidak menampilkan foto istri saya..”

Dari situ aku ambil kesimpulan bahwa sang ustadz sepertinya memang tidak ingin menampilkan foto sang istri. Bisa jadi karena begitu besar cintanya terhadap sang istri, maka tak boleh ada yang menikmati kecantikan sang istri selain dirinya, begitu dijaga sekali kemuliaan istrinya. Ya Rabb, semoga kami -para akhwat- bisa menjaga kemuliaan diri kami..

Mungkin kita bisa mengambil hikmah dari kejadian di bawah ini...

Baru saja kemarin, di perkampungan multiply, MP, ada berita bahwa ada seorang ikhwan yang tiba-tiba minta ta’aruf dengan seorang akhwat padahal belum kenal sang akhwat dan hanya melihat foto sang akhwat di FB. Huufffhh.. ada-ada aja..

Jika diliat dari akar masalahnya mungkin berasal dari foto sang akhwat di FB, bukan begitu?

Jadi, apa yang akan kita –para akhwat- lakukan setelah ini?

***

Tulisan ini dipublish terutama ditujukan pada diri sendiri sebagai seorang akhwat serta untuk saling mengingatkan para facebookers yang lain. Semoga kita bisa menjaga kemuliaan diri kita sebagai seorang akhwat ketika berada di dunia maya.

”Kejahatan itu bukan hanya sekadar berasal dari niat seseorang untuk berbuat jahat tapi karena ada kesempatan. Waspadalah.. Waspadalah..”

Semangat bermanfaat!

Jadikan dunia maya sebagai ladang amal kita

###

Penulis bernama LhinBlue, seorang staf di biro PPSDM (Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Muslim) SALAM UI, yang baru saja menyelesaikan studi S1 di Kimia FMIPA UI

Mahasiswi Kimia FMIPA UI 2006

Sumber: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/fenomena-akhwat-facebook-ers.htm

Bismillah, Sehela nafas mengiringi langkah-langkah kita…tak terasa kita sudah melangkah menuju arah yang sama. Berbekal niat yang senantiasa kita luruskan hanya untuk meraih Ridhonya, dalam naungannya keyainan kita terhembuskan dari Rabb kita.

Akankah kita terlalu panjang henghela nafas? Akankah ruh kita tetap bersama jasadnya? Duhai hati kenapa harus resah dan gelisah…seolah tak yakin kan kehendak yang Esa? Kembalilah wahai jiwa-jiwa hampa kepada Rabb mu…

Menghulur waktu yang membentang nan menjulang kita kemas sebagai tarbiyah untuk kita,yakinlah Allah bersama orang-orang bersabar.

Ibarat sebuah perjalanan, kita terus melangkah saling bekal membekali, namun ingatlah berkal ini amat terbatas jika bekal habis namun belumlah pula sampai pada tujuan kita, maka apa yang kita lakukan? Berkata bersabarlah? Berkata tenanglah? Berkata Dimlah, atau kita tertatih melangkah terus dalam kondisi kehausan?Jerakah? putus asakah? Menyesalkan?....

Sungguh yakinlah Allah Maha Pengasih , Maha Penyayang senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan, maka tersenyumlah saat kita melaju meniti langkah ini, sertakan Allah bersama kita maka bekal yang kita bawa tentunya saling mencukupi. Karen Allah limpahkan rasa cukup pada hati kita, Allah punya rencana Indah melebihi renca kita.

Perjalanan ini kita jadikan sebagai ladang amal untuk kita, betapa banyak hikmah yang bisa kita ambil…sesekali kita merasa lelah, maka bisikanlah hikmah dari perjalanan yang telah kita lalui. Maka kita tertunduk dan berkata mari kita terus melangkah, mari kita dekati Allah, Mari kita semai keindahan yang Allah Ridhoi. Kita terus berusaha melangkah dalam naungan berkah-Nya, amin Ya Rabb.

Terus melaju dan yakinlah ku semai selalu do’a untuk kita…sesekali air mata mengiringi…sebagai keindahan bukti perjalanan yang kita lalui ini hanya kepingan mozaik dari keseluruhan hidup, maka tersenyumlah saat keping mozaik indah itu telah tergenggam di tangan kita.

Ku semai do’a sepanjang perjalanan kita…

“Ya Rabb hulurkanlah sebuah bekal kesabaran yang kita balut dengan keikhlasan…”

“Ya Rabb berkahi perjalanan kami, serta jagalah kami agar senantiasa dalam naungan Ridho dan Keridoan Mu”

“Ya Rabb bekali kami denagn bekal iman dan ilmu, untuk mengarungi perjalanan ini”

“Ya Rabb jika kami lupa akan niat kami, maka seketika hujamkan agar tetap kokoh kaki berpijak untuk terus melangkah”.

“Ya Rabb, sampaikan kami di penghujung perjalanan ini, dengan pernuh keberkahan dalam naungan keridhoan-mu”

Amin Ya Rabb…

Bismillahirahmanirrahiim...

Sebelum saya bercuap-cuap saya mohon maaf jika dalam tulisan saya ada hal-hal yang kurang berkenan. Tulisan ini terinspirasi dari teman-teman akhwat yang berada di sekitar saya dan tentunya pengalamn saya sendiri, hehe…Selamat menikmati…semoga bermanfaat ^_^

>>>>>>>>>>@<<<<<<<<<<

Terlihat seorang wanita berkerudung Orange menyala, kerudungnya panjang menjuntai, ia sedang berjalan sambil memegang HP dan membaca sms…tersipu-sipu tersenyum…Hmm sepertinya dapet undian hadiah tuh, hehe. Yuk ahhhh kita intip apa tuh Smsnya?

“Assalamu’alaikum Ukhti…Kaifahaluk?” - Dari: Ikhwan Tebar Pesona.-

Hmm tersipu nih si akhwat dapet sms dari salah satu ikhwan yang digemarinya, lalu di balasnya smsnya.

Wa’alaikumsallam, Alhamdulillah baik akhi…antum bagaimana? Kemana ja ko jarang kelihatan rapat? -Dari: Akhwat Cengegesan.

“Afwan ana ada amanah lain”- Dari:Ikhwan Tebar Pesona-

“Subhanallah, Moga Istiqamah Ya, Oh Ya boleh tidak ana minta tausiyahnya lagi Futur nih”-Akhwat Cengengesan-

“Boleh..^_^”-Dari: Ikhwan Tebar Pesona.

Wah wah…wah terlihat akrab sekali nih…ehm…ehm…! Syuut kayanya ada some think deh…kta intip fenomena lain tentang Akhwat Cengengesan…Yuk Ah..

Kring…Kring…Kring…Suara telfon berdering.

Klik diangkat oleh seorang Akhwat dalam sebuah kamar kos-kosan.

“Assalamu’alaikum”-

“Wa’alaikumsallam”

“Bagiaman Kabrnya de, sehatkan? Udah Sarapan belum?”

“Hmm…belum ka”

“Ko Belum hati-hati sakit, kalo sakit ntar gak masuk kuliah, repotkan?”

Si akhwat tidak banyak berkata-kata karena di dalam kamarnya ada orang lain, alias teman satu kamarnya….karena ia ngekos satu kamar ber-2. Seketika ia mencari tempat yang sepi…pegi ke ruang tamu, dapur, atau toilet kali ya…biar gak da orang yang mendengarkan..huhu maklum pengenya di denger setan aja.. he

Terusin ah obrolannya….

gak apa-apa lagi males aja, pusing…”

“Pusing kenapa banyak tugas ya…”

Panjang lebar deh obrolannya, tapi anehnya gak ada hal-penting yang disampaikan, Yah hanya melepas rindu kali ...Hmm….

Nah sekarang Fenomena di Facebook…yang lagi ngetren nih…^_-

Ada akhwat Update Status…

“Malam Sunyi senyam akau sendiri berdiri di keheningan malam, bermunajat agar hilang rasa resah dan gundah”-Akhwat Cengengesan-

*Tring…Nongol Ikhwan ngomen…*

“Semoga segala keresahan di ganti dengan ketentraman”-Ikhwan Tebar Pesona-

“Jazakallah ^_^”-Akhwat Cengengesan-

“^_^”-Ikhwan Cengengesan-

Ehmmm…Sok perhatian tuh ci Ikhwan tebar pesona, akhwatkann jadi Ke-GE-ER-AN…

Hmm…ada cerita lagi nih tentang Akhwat yang KE-GE-ER-AN…

Kodratnya si akhwat suka sama si ikhwan yang hmm katakanlah nampak dari luar ciri-ciri ke ikhwanannya…waduh…!!!! Padahal Allah yang lebih Tau loch jangan lihat bungkusan luar,^_^….

Seorang akhwat memiliki kesimpulan tentang ciri-ciri ikhwan yang nampak oleh mata:

1. Aktif di organisasi kampus…

2. Ngomongnya sok pake B.Arab…yah walaupun bisanya Cuma ngomong Afwan, Akhi, Ukhti Aja…he

3. Ada Janggutnya…hehe kaya embe…Ups! “Jangan salah Sunnah Rasulullah Loh, sebagai pembeda antara umat Islam dengan Umat Lain”

4. Berpakaian Rapih, Gak kaya anak Funk…hehe…Ya Iyalah…

5. Kalo lagi jalan Nunduk…”GB neh Ceritanya alias Gadhul Basar”…Woi hati-hati kejedot tiang.

6. Dll…

(Eh maaf ya….poin-poin diatas berdasarkan hasil konferensi sesama kahwat….hehe)

Langsung Cerita fenomen selanjutnya…

Singkat cerita Si akhwat berada dalam kondisi hanya dia yang nampak berbeda dari teman-teman yang lain di kampusnya..kerudung yang menjuntai, berkaos kaki, baju yang lebar (ada juga yang teman yang iseng bilang dia ke kampus ko pak baju Daster!, enak aja tuh temennya bilang, yah mungkin dia senengnya lihat cewe-cewe pake baju kaya lontong kali ya..Ups).

Singkat cerita, karen akhwat ini berbeda dari teman-temannya, dan hanya 1 dari 100 yang di temui…ehm ada ikhwan iseng deh dateng…ups! Berawal dari Sms, Sok perhatian, Hmm terus sok ngasih-ngasih materi-materi dakwah di kampus, satu ativitas organisasi…Hmm…Eh si akhwat kelabakan jadi bingung…lambat laun luluh dah…

Hmmm….lam-lama udah kaya pacaran aja nih…wah-wah hati hati ada api neraka nyasar ke bumi…hehe.

Ups…waktu berganti hari…”Ting ada ikhwan lain yag kayanya lebih saleh nih, dateng menghampiri sang bunga kampus…hehe. Yah karena koordinasi organisasi…ehhhh bocor deh hati…Si Akhwat jadi GE-ER…hmm, berpindah hati dah suka ke ikhwan yang nampak lebih soleh…

Padahal….???? Ups!

Nah itu cerita diambil dari kisahnyata loh…kisah teman-teman saya…ups afwan bagi sahabat yang merasa..hehe..tenang gak akan disebutkan NAMAnya kok ^_^.

YUK AH..KITA AMBIL HIKMAHNYA….

Sebagi seorang akhwat pandai-pandailah kita menjaga diri…bunga yang mekar dan merekah itu indah jangan salahkan ada kumbang menghampiri..(hati-hati kumbangkan suka menyengat)

Wahai wanita diri mu ibarat sebuah mawar, indah namun jangan pernah sesali duri yang ada pada mu, ia sebagai perisai mu. Maka jadilah seorang akhwat yang mampu melindungi diri…ketegasan mu bukan sebagai kelemahan, jangan pernah takut ikhwan menjadi berfikir akhwat galak…perlu di bedakan antara tegas dan galak…hmm…

Allah telah menjanjikan seorang wanita baik akan berpasangan dengan laki-laki yang baik. Maka jangan pernah berani untuk mencoba mendekati laki-laki yang suka tebar pesona….

Diibaratkan sedang berpuasa, maka jagalah norma dan aturan hal yang dapat membatalkan serta mengurangi pahala puasa. Begitupun dalam memilih pasangan hidup hati-hati jangan berbuka di tengah hari…ingat! Segalanya akan indah jika sudah waktunya…

Apa yang dapat kita bayangkan ketika ada seorang pemuda yang ganteng, sehat, dan perkasa tiba-tiba diberi vonis oleh seorang dokter bahwa dalam tubuhnya tumbuh kanker ganas? Andaikata hal itu menimpa kita sendiri? Semangat yang tadinya berkobar tiba-tiba padam. Hilanglah seluruh harapan. Musnalah semua cita-cita. Dunia seakan berhenti seketika.



Apa yang sedang kita takutkan dengan penyakit kanker tersebut? Jawabnya sudah hampir pasti adalah kematian. Semua orang takut mati, bahkan seluruh makhluk hidup takut datangnya peristiwa itu. Mulai dari makhluk terkecil semisal semut hingga yang terbesar seperti gajah, semua takut mati. Andaikata mati itu berwujud makhluq tentu akan dilawan, sebagaimana mereka melawan setiap orang yang mencoba mengganggu kehidupannya. Andaikata bisa dihindari, tentu semua makhluq akan memilih untuk menghindarinya.

Anas Radhiallaahu `anhu meriwayatkan hadits Rasulullah Saw: "Anak Adam tidak menemui sesuatu yang diciptakan Allah melebihi hebatnya maut, padahal maut itu merupakan peristiwa yang paling ringan dibandingkan dengan kejadian-kejadian sesudahnya." (HR. Ahmad)

Takut kepada kematian adalah naluri semua makhluk hidup, sifatnya sangat alamiah. Bayangan kematian merupakan bayangan yang paling menakutkan. Di dunia ini tidak ada yang paling menakutkan melebihi kematian. Seandainya tidak ada kematian, tidak ada sesuatupun yang ditakuti. Risiko tertinggi di dunia ini adalah mati. Tidak ada yang melebihinya lagi.

Seorang penguasa yang paling berkuasa sekalipun akan merasa hina dan nista di depan kematian. Ia merasa kecil dan kerdil, karena kedatangannya tanpa permisi apalagi meminta izinnya. Jika Allah telah menetapkan ajalnya, malaikat mautpun siap menjemputnya, tanpa ada kompromi. Kekuasaan, kekayaan, prajurit, teman, kerabat, dan segala yang ada di dunia ini, tak ada yang bisa mencegah kematian.

Fir'aun sepanjang hidupnya tidak pernah mau mengakui kekuasaan Tuhan melebihi kekuasaannya. bahkan ia sendiri mengaku sebagai Tuhan. Akan tetapi pada penghujung hidupnya, pada saat-saat kritis ketika akan tenggelam dalam lautan setelah mengejar pasukan Bani Israel, Fir'aun berseru kepada Allah, mengakui ke-Esaan-Nya, berserah diri kepada-Nya. Fir'aun yang sangat berkuasa di dunia akhirnya merasa kerdil di depan al-Maut.

Adalah al-Ma'mun, seorang khalifah yang sangat luas wilayah kekuasaannya. Di penghujung kehidupannya ia sadar bahwa sebentar lagi malaikat maut segera datang menjemput. Kesadarannya terhadap kepastian mati itu tak pernah diragukan, namun ia tetap takut dan gelisah menghadapinya. Itulah sebabnya ia perintahkan kepada bawahannya untuk mengusungnya ke markas militer. Saat itu malam hari, obor-obor dinyalakan dari berbagai sudut sehingga membuat suasana magis yang menggetarkan setiap orang yang ada di tempat itu. Di tengah hamparan padang pasir yang luas itu, al-Ma'mun merasakan harapan dan cita-citanya terbang bersama angin.

Ia sadar bahwa kekuasaan dan kemuliaannya di dunia tidak mendatangkan manfaat sedikitpun pada saat-saat seperti itu. Dengan segala kepasrahan dalam ketidakberdayaannya, ia menengadahkan tangannya tinggi-tinggi sambil berdo'a: "Wahai Dzat yang kekuasaan-Mu senantiasa langgeng dan kekal, kasihanilah hamba-Mu yang kekuasaannya akan hilang dari tangannya."

Sampai di sini, ada satu pertanyaan yang mesti dijawab, apakah sebenarnya yang ditakutkan oleh manusia pada kematian itu? Jawabnya bisa beragam, tapi yang pasti bahwa yang paling ditakutkan manusia dari kematian adalah kesirnaan dan ketiadaan. Mereka takut kehilangan, teman, kekasih, anak, orang tua, harta benda, kemuliaan, kekuasaan, dan segala hal yang bersifat duniawi. Mereka takut berpisah dengan semua yang dimiliki di dunia ini.

Sesungguhnya manusia telah lama membangun istana harapan dan cita-cita dalam jiwanya. Dengan susah payah mereka mengumpulkan satu persatu komponen bangunan itu, kemudian pelan-pelan merakitnya. Akan tetapi dengan kedatangan al-Maut, semua bangunan itu tiba-tiba roboh, hancur berkeping-keping. Kematian tak ubahnya seperti bom yang menghancurkan segala-galanya, termasuk istana bayangan yang telah dibangun oleh jiwa manusia.

Jika istana yang dibangun dalam jiwa manusia itu hanyalah istana harapan dan impian, tentulah rapuh dan mudah runtuh. Sekali datang al-maut, sirna dan hancurlah semuanya. Akan tetapi jika manusia membangun istana dalam jiwanya dengan bahan baku iman dan akhlaqul karimah, maka bangunan itu tak akan pernah roboh oleh kematian sekalipun. Kematian tidak berpengaruh sedikitpun pada mereka.

Bagi orang-orang yang disebutkan terakhir ini, kematian tidak lebih dari sekadar perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. Ibarat orang-orang metropolitan yang super sibuk, mereka memerlukan waktu khusus "week end" untuk rekreasi, melupakan pikiran tentang pekerjaan, meninggalkan kepenatan ibu kota, meninggalkan rumah dan segala tradisinya. Mereka benar-benar menginginkan suasana baru, di alam yang baru. Bagi orang-orang seperti ini, kematian sama sekali tidak menakutkan.

Beban yang diderita mereka yang sedang dalam sakaratul maut itu luar biasa. Rasa sakit yang dideritanya cukup berat, apalagi pada detik-detik terakhir ketika malaikat maut sudah mulai menjalankan operasinya. Semua nabi dan Rasul kekasih Allah ikut juga merasakannya, tak terkecuali Muhammad saw. `Aisyah menceritakan bahwa di saat sakaratul maut, di samping Rasulullah ada bejana berisi air, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, sambil berdo'a:


"Ya Allah, tolonglah aku dari sakaratul maut ini." (HR. Nasa-i, Ibnu Majah, Ahmad, dan Tirmidzi)

Jika orang yang setabah Nabi Muhammad Shallallaahu `alaihi wa sallam saja sampai meminta pertolongan pada saat menghadapi sakaratul maut, apalagi orang lain yang tidak memiliki mental baja seperti beliau. Ini adalah gambaran bahwa sakaratul maut itu memang luar biasa beratnya. Beban sakit yang luar biasa itu akan semakin bertambah dan berlipat-lipat manakala sikap mental seseorang tidak siap menghadapinya.

Yang bisa menolong seseorang menahan rasa sakit pada peristiwa sakaratul maut adalah mentalitasnya. Mereka yang menolak kematian tentu lebih berat penderitaannya, sedangkan mereka yang pasrah, apalagi yang menyambutnya dengan penuh persiapan, tentu dapat merasakan penderitaan itu lebih ringan. rasa sakit yang sangat itu bisa dikalahkan dengan harapannya kepada Allah akan kehidupan yang lebih baik, lebih kekal, dan lebih membahagiakan.

Sepanjang masih ada harapan bahwa kehidupannya di akhirat lebih baik dari yang dirasakan di dunia ini, maka segala rasa sakit dan kepedihannya akan terobati oleh bayangan surga, dan kehidupan yang lebih baik tersebut.

Lain halnya bagi mereka yang tidak punya harapan akherat, kematian merupakan qiyamat baginya. Kematian adalah akhir segala-galanya, padahal bagi orang-orang kafir, kematian sesungguhnya adalah awal penderitaan yang berkepanjangan, bahkan selama-lamanya.

Orang-orang shalih yang telah mempersiapkan hari kematiannya dengan baik tak terlalu khawatir dengan kematian itu. Mereka rileks menghadapinya, sampai pada detik-detik akhirnya. Rasulullah sangat tenang ketika al-Maut menjemput, bahkan beliau tetap bisa menghibur putrinya, Fathimah yang kelihatan kurang rela melepaskan kematian ayahnya. Beliau bersabda: "Wahai putriku, telah datang kepada ayahmu keputusan Allah yang tiada seorangpun dapat menolaknya hingga hari qiamat." (HR. Ahmad)

Rasulullah bahkan seolah tak menghiraukan kematian itu, sehingga sampai pada detik-detik akhir hayatnya, beliau tetap menjalankan tugas kerasulannya dengan menyampaikan fatwa-fatwa penting sebagai pengingat kepada ummatnya. Beliau mengingatkan ummatnya agar tetap memelihara shalat, melindungi kaum perempuan, dan berbagai wasiat penting alainnya.

Orang-orang mulia seperti Rasulullah Saw melihat bahwa kematian bukan akhir dari segala-galanya, bukan pula keterpisahan dan ketiadaan, akan tetapi kematian adalah perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. Kematian adalah rekreasi yang sebenarnya.(sumber: hidayatullah)

"♥ Assalamu'alaikum...selamat datang di blog sederhana ini. semoga setiap rangkaian kata-kata bisa menginspirasi & memberi motivasi hingga menjadikan lentera penerang dalam hati...♥"

♥..Inilah Aku..♥

Foto Saya
Tuti R.Lestari
"Seorang hamba Allah yang senantiasa berusaha menjalankan titah-titah Rabbnya... Semoga setiap goresan pena dapat memberikan inspirasi dan Motivasi..."
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

:::: Translet ::::

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Entri Populer

Follow

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...